Ruang Iklan Disewakan

Balada Winda Ibu Muda Hot dan Sang Sopir

Balada Winda Ibu Muda Hot dan Sang SopirKisah ini juga true story di mulai saat Winda seorang ibu muda, 26 tahun yang telah bersuami dan mempunyai seorang anak berumur 1 tahun di tempatkan di Lubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman-Sumatera Barat. Kabupaten ini terkenal dengan magisnya yang kuat, terletak di pesisir selatan Sumatera Barat. Demi karirnya di sebuah Bank swasta pemerintah, ia terpaksa bolak balik Padang - Lubuk Sikaping tiap akhir minggu mengunjungi sang suami yang menjadi dosen pada sebuah Universitas di kota Padang.

Awal Winda mengenal Johan sejak Winda kost di rumah milik kakak perempuannya. Winda tidak begitu kenal dekat, Winda hanya menganggukkan kepala saja saat bertemu dengannya. Diapun begitu juga pada Winda. Jadi mereka belum pernah berkomunikasi langsung. Yah, sebagai adik pemilik rumah tempat kostnya, Winda harus bisa menempatkan diri seakrab mungkin. Apalagi sifatnya yang suka menyapa dan memberi senyum pada orang yang Winda kenal. Winda tahu diri sebab Winda adalah pendatang di daerah yang cukup jauh dari kota tempat Winda bermukim.

Begitu juga dengan latar belakang Johan Winda tidak begitu tahu. Mulai dari statusnya, usianya juga pekerjaannya. Perkenalan mereka terjadi di saat Winda akan pulang ke Padang.

Saat itu hari jumat sore sekitar jam 17.30. Winda tengah menunggu bis yang akan membawanya ke Padang, maklum di depan rumah kost nya itu adalah jalan raya Lintas Sumatera, jadi bis umum yang dari Medan sering melewatinya. Tak seperti biasanya meskipun jam telah menunjukan pukul 17.50, bis tak kunjung juga lewat. Winda jadi gelisah karena biasanya bis ke Padang amatlah banyak. Jika tidak mendapat yang langsung ke Padang, Winda transit dulu di Bukittinggi, dan naik travel dari Bukittinggi.

Kegelisahannya saat menunggu itu di lihat oleh ibu pemilik kost Winda. Ia lalu memanggil Winda dan mengatakan bahwa adiknya Johan juga mau ke Padang untuk membawa muatan yang akan di bongkar di Padang. Dengan sedikit basa basi Winda berusaha menolak tawarannya itu, namun mengingat Winda harus pulang dan bertemu suami dan anaknya, maka tawaran itu Winda terima. Yah, lalu Winda naik truknya itu menuju Padang.

Selama perjalanan Winda berusaha untuk bersikap sopan dan akrab dengan lelaki adik pemilik kostnya itu yang akhirnya Winda ketahui bernama Johan. Usianya saat itu sekitar 45 tahun. Lalu mereka terlibat obrolan yang mulai akrab, saling bercerita mulai dari pekerjaan Winda juga pekerjaan Johan sebagai seorang sopir truk antar daerah. Iapun bercerita tentang pengalamannya mengunjungi berbagai daerah di pulau Sumatera dan Jawa. Winda mendengarkannya dengan baik. Dia bercerita tentang suka duka sebagai sopir, juga tentang stigma orang-orang tentang sifat sopir yang sering beristri di setiap daerah. Windapun memberikan tanggapan seadanya, dapat dimaklumi karena Winda yang di besarkan dalam keluarga pegawai negeri tidak begitu tahu kehidupan sopir.

Windapun bercerita juga tentang pekerjaannya di bidang perbankan dan suka dukanya. Iapun sempat memuji Winda yang mau di tempatkan di luar daerah, dan rela meninggalkan keluarga di kota Padang. Ya Winda tentunya memberikan alasan yang bisa diterima dan masuk akal.

Winda juga memujinya tentang ketekunannya berkerja mencari sesuap nasi dan tidak mau menggantungkan hidup kepada keluarga kakaknya yang juga termasuk berada. Iapun berkata bahwa truk yang ia sopiri itu milik kakaknya itu, setelah ia dan suaminya pensiun dari guru. Sedangkan anak-anak kakaknya itu sudah bekeluarga semua, juga bekerja di beberapa kota di Sumatera juga Jakarta.

Selama perjalanan itu mereka semakin akrab. Winda sempat bertanya tentang keluarga Johan. Ia tampak sedih, menurutnya sang istri minta cerai dengan membawa serta 2 orang anaknya .Istrinya meminta cerai karena ada hasutan dari keluarganya bahwa seorang sopir suka menelantarkan keluarga. dan Johan memberi tahu dirinya sebab musabab ia bercerai dengan lengkap. Padahal bagi Winda saat itu, hal itu tidaklah begitu penting, namun sebagai lawan bicara yang baik selama di perjalanan lebih baik mendengarkan saja. Hingga akhirnya Winda sampai di dekat rumahnya di Padang.
Winda di jemput suaminya di perempatan jalan by pass itu, Winda sempat mengenalkan Johan pada suami dan suaminya, dan mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Tak lupa Winda menawarkan singgah untuk makan kerumahnya, namun Johan dengan sopan menolaknya dengan alasan barang muatan truknya harus di bongkar secepatnya. Dan mereka pun berpisah di perempatan by pass itu.

Semenjak Winda mengenal Johan, Winda akhirnya sering menumpang truknya ke Padang. Winda jadi tidak kuatir lagi jika tidak ada bis umum yang akan ke membawanya ke Padang. Sejauh itu, keakraban Winda dan Johan, mereka masih dalam batas - batas yang di tentukan norma masyarakat Minang. Ya kadang dalam perjalanan jika perut lapar, mereka singgah untuk makan dan Winda selalu berusaha untuk membayar, sebab sebagai seorang wanita selalu ada perasaan tidak enak, jika semuanya menjadi tanggungannya. Winda tidak mau terlalu banyak berhutang budi pada orang. Itulah prinsip yang dianutnya dari kecil. Masa selama ke Padang udah gratis, makan gratis pula??

Kejadian pulang ke Padang seolah telah biasa bagi Winda bersama Johan. Kadang dia tidak ke Padang, hanya ke Bukittinggi, Winda juga ikut menumpang, lalu dari Bukittinggi Winda naik travel atau bis. Winda pun akhirnya telah menganggap Johan seperti kakaknya sendiri. Itu karena ia sering memberinya petuah tentang hidup, misalnya harus banyak sabar jika jadi istri, juga sikapku yang baik dimata ibu kost kakaknya itu. Terkadang Winda sering membawakan oleh-oleh untukt ibu kostnya jika pulang, terkadang Winda menyisihkan buat Johan, ya meski harganya tidak seberapa namun ia amat senang.

Selama 2 bulan itu Winda selalu bersama Johan jika ke Padang. Mulailah Johan bersikap aneh. Kini dia jadi sering bicara jorok dan tabu. Juga ia mulai berani bertanya tentang gimana Winda berhubungan dengan suami, berapa lama suaminya bisa bertahan dan berapa kali Winda berhubungan selama seminggu. Pertanyaan-pertanyaannya ini tentu saja membuatnya merasa risih dan tidak enak hati. Winda kadang berusaha untuk pura-tidur tidur jika ia mulai berbicara tentang hal-hal yang tidak pantas itu. Meskipun ia mulai aneh dan bicara tentang hal-hal yang cabul itu. Winda bersyukur hingga saat ini Johan tidak macam macam kepadanya. Winda menyadari mungkin Johan sedang stress akibat hidupnya yang sendiri itu, namun Winda tidak menanggapinya, dan seperti angin lalu saja.

Hingga sampailah saat Winda pulang dengannya untuk kesekian kali, ia berusaha memegang jemari tangannya. Winda tentu saja kaget dan cemas, sekaligus takut. Winda langsung menarik tangannya dari genggaman Johan.

“Bang jangan bang,,,,Winda punya suami dan anak yang masih kecil,,apa abang tega membuat Winda kecewa?” ucap Winda. Winda juga mengancam akan mengadukan perlakuannya itu kepada kakaknya. Johanpun lantas melepaskan tangannya yang akan kembali meraih jemarinya. Winda juga berkatag padanya.
“Cukup sampai di sini Bang, Winda tidak akan menumpang truk abang lagi”. Hingga Winda sampai di Padang Winda hanya berucap terima kasih lalu diam. Winda masih kesal. Diapun sepertinya agak takut. Namun Winda tidak tahu apa yang membuatnya jadi seperti tadi.

Hampir selama sebulan ini Winda tidak melihat Johan di rumah kakaknya, namun truknya masih nongkrong di halaman samping rumah induk itu. Selama itu Winda pulang naik bis yang kadang transit di Bukittinggi. Winda tidak tahu kemana ia pergi, namun Winda menanyakan pada ibu kosnya, dan Winda di beri tahu bahwa Johan sedang mengunjungi mantan istrinya untuk menjenguk anaknya. Windapun larut dengan rutinitasnya seperti biasa.

Namun hatinya yang tadinya kesal, dongkol dan marah kepada Johan tanpa sadari Winda perasaannya mulai berubah. Tiba-tiba saja Winda malah sangat ingin bertemu dan ingin numpang pulang dengan truknya. Ya, Winda seakan rindu berat.

Hari jumat sore itu dengan masih mengenakan pakaian kerja dan penutup kepala, Windapun mau saja diajak pulang bareng dengan Johan yang mengantarkan muatan truknya ke Padang. Mereka berangkat jam setengah lima. Lalu dalam perjalanan lelaki berbadan tegap tersebut kembali bicara itu, tentangg hubungan laki-laki dan perempuan serta sifat perempuan yang memiliki libido tersembunyi. Juga kekuatannya berhubungan badan dengan lawan jenis. Winda malah mendengar dengan seksama dan sesekali memberi komentar. Mungkin saja karena lama tidak tersalur atau laki - laki itu punya kemampuan lebih dalam hubungan badan, juga mungkin bantuan obat pemanbah perkasaant pria, komentar Winda. Sepertinya wanita muda tersebut tidak peduli lagi akan omongan joroknya Johan.

Hingga senja. Sekitar jam 7 lewat mereka turun mampir di rumah makan di pinggiran jalan di Bukittinggi untuk beristirahat sejenak sambil mengisi perut. Anehnya saat itu Winda membiarkan saja saat tangannya di gandeng oleh Johan. Mereka makan dengan lahapnya. Dan setelah makan mereka berkemas dan berangkat untuk melanjutkan perjalanan menuju Padang

Mobil mulai jalan meninggalkan rumah makan. Pas melalui daerah Bukit Ambacang daerah yang dulunya tempat pacuan kuda itu mungkin karena perut udah kenyang, dan dinginnya udara malam yang berembus dari celah kaca mobil, Winda jadi mengantuk. Winda menyandarkan kepalanya ke kaca jendela mobil, tetapi karena jalan yang tidak rata, kepala Winda sering terantuk. Lalu Johan menawarkan, supaya Winda tidak terantuk kaca agar Winda mendekat kearahnya, dan bersandar di bahunya.

”Winda daripada ga bisa tidur, lebih baik rebahkan kepalamu di bahu abang” kata Johan.
”nggak usahlah bang,,kan abang sedang nyetir, nanti malah bikin abang tidak bisa nyetir dengan baik.apalagi ini malam bang” kata Winda menolak dengan halus dan tidak mau mendekat padahal saat itu Winda telah ngantuk berat.

Dengan sebelah tangannya Johan meraih tangan wanita muda itu dan menariknya agar mendekat, dan makin mendekat hingga duduk mereka menjadi menempel bersisian dan hanya di batasi handel persneling mobil. Winda akhirnya menurut dan merebahkan kepalanya di bahunya lelaki tersebut. Winda terlelap sesaat. Padahal hati kecil Winda saat itu berbisik bahwa itu salah besar, dan Winda mengetahui itu amat sangat tidak boleh. Namun Winda juga merasakan dorongan yang jauh lebih besar untuk membiarkan itu terjadi.

Saat terpejam dan dalam keadaan setengah tertidur itu tanpa Winda menyadari, tiba - tiba sebuah kecupan menerpa pipi dan bibirnyanya. Wanita muda itu kaget dan langsung bereaksi. Langsung ia menolakkan muka Johan dengan tangannya. Johan pun menghentikan kecupannya meskipun tangan kirinya masih merangkul bahu Winda agar tetap rapat menempel pada dirinya. Winda berusaha melepaskan tangan Johan pada bahu kirinya dan mengingatkan agar ia konsentrasi ke jalan.

”Bang sadar bang ini jalan raya bisa kecelakaan, mobil lain pada ngebut tuh” kata Winda mengingatkan. Johan pun menurut dan kembali berkosentrasi mengemudikan truknya..

Tak lama kemudian saat truknya berjalan perlahan karena macet di daerah Padangpanjang, saat Winda yang masih merebahkan kepalanya pada bahu Johan, terkejut karena tiba-tiba saja karena bibir berkumis Johan menghampiri bibir tipisnya dan mengecupnya sekilas. Winda langsung terbangun dan duduk kembali menjauh dari bahunya. Perasaannya sangat dongkol tidak bisa berkata-kata apalagi berbuat kasar

”Eh bang Johan ini tidak juga ngerti, Winda mohon jgn di ulang lagi ini, dosa bang apa nanti kata org jika lihat kita saat itu tadi?”. Namun, Johan sang sopir dia tetap santai-santai saja, seakan-akan Winda mengizinkan Johan berlaku demikian
”habis Winda bikin abang gemas” jawabnya sambil meminta maaf.

Kembali wanita muda tersebut diam membisu selama perjalanan, tidak menggubris apapun yang Johan katakanKembali tangan kiri Johan meraih bahu Winda untuk mrengkuhnya agar kembali rebah pada bahunya. Selama perjalanan itu Johan tidak lagi menciumi Winda, hanya meremas remas jari lentiknya dan mengecupi kepalanya yang masih mengenakan penutup kepala. Rasa hangat dan nyaman menghampiri perasaan Winda saat itu.

Hingga...Saat truk mereka memasuki wilayah jalan by pass yang gelap itu dekat simpang bandara yang baru sekarang ini, lelaki itu melambatkan laju truknya dan kembali menciumi dan melumat bibir wanita muda itu. Hanya saja herannya Winda malah membiarkannya saja. Jujur diakuinya ada desir-desir gairahnya yang mulai bangkit. Lalu Johan menghentikan truknya di tengah jalan dan kembali... menciumi, melumat bibir sebelah bawah milik Winda kembali dengan lebih bergairah. Tangan kanannya mulai naik meraba menemukan bukit padat yang membusung terbungkus di dada wanita muda tersebut. Meremasnya perlahan. Winda diam, matanya terpejam dan menikmati betapa gairahnya yang telah terbit kembali meluap. Dalam keasyikan mereka tersebut.

Tiba-tiba...Ada cahaya dari lampu mobil dari arah berlawanan menyorot kepada mereka. Dan langsung Johan menghentikan aksinya, lalu kembali pada posisinya menjalankan mobil tersebut hingga rumah wanita muda tersebut. Sesampainya di rumah, Winda masih saja terbayang akan perlakuan Johan pada dirinya. Untunglah saat itu suaminya sedang berada di Jakarta dan takkan mengetahui perubahan sikapnya tersebut. Hingga pada waktu tidur pada malam itu Winda bermimpi melakukan hal yang sama hingga ia disetubuhi oleh Johan. Dalam mimpinya ia merasa amat puas, puas yang berbeda sekali saat ia melakukan dengan suaminya.

Kembali kini Winda ke Pasaman, dan bekerja seperti biasanya. Telah 3 minggu ini ia tak bertemu Johan. Kata kakaknya Johan sedang ada muatan ke Pematang Siantar. Winda sangat berharap untuk bertemu. Dirinya dilanda rindu yang sangat merajam perasaannya. Winda seolah-olah menjadi seorang remaja putri yang amat rindu pada kekasih saat itu. Membuat pikirannya hanya tertuju pada Johan seorang.

Beberapa minggu kemudian mereka bertemu dan kembali berangkat bersama saat Winda hendak pulang ke Padang. Saat di perjalanan Johan minta Winda untuk melepas kacamata Winda. Winda heran kenapa dia meminta Winda melepaskan kacamata?

”Abang ingin melihat mata Dik Win tidak mengenakan kaca mata” kata Johan. Windapun menurut lantas melepas dan menyimpannya dalam kotak dan kemudian memasukan dalam tas miliknya. Sepanjang perjalanan itu Winda tidak mengenakan kacamata. Kembali tangan kiri Johan merengkuh bahu Winda, menariknya agar duduk berdekatan. Winda yang tidak ngantuk bergeser mendekati dan karena merasa tidak enak dengan hawa kaki lelaki itu dari bawah dashbord dekat stirnya itu kemudian menegakkan kepalanya dan tidak rebah dibahu Johan.

Dan kembali dalam perjalanan menuju Padangpanjang Johan meminta Winda melepas penutup kepalanya

”Win..abang ingin melihat rambut Winda...selama ini abang belum pernah lihat.sebentar aja Win, kan hanya di atas truk ini, tidak ada yang akan lihat” katanya. dengan alasannya ia sudah sangat lama ingin melihat rambutku.
”Jangan lah bang,Winda sudah berkeluarga,juga punya anak, jadi Winda ingin, jadi ibu dan istri yang baik, sebab jika Win buka kerudung, nanti,abang bisa berubah pikiran, Winda kuatir bang”. Winda merasa keberatan, sebab merasa amat telanjang jika kerudungnya lepas.
”Ala..Dik Winda jangan takut ama abang, abang kan bukan orang jahat, apalagi abang amat sayang pada Winda, meski abang tau Winda sudah punya suami dan anak” kata Namun Johan menyakinkan. Winda bahwa ini hanya sebentar. Lalu Windapun meluluskan permintaannya. Penutup kepalanya dilepas dan di taruh, di pangkuannya sendiri.

Tangan kiri Johan naik dan membelai rambut Winda, dari atas lalu turun ke tengkuknya yang di tumbuhi rambut halus.

”Abang suka melihat rambut halus di tengkuk dik Win ” ujar Johan.
”sangat wangi” lanjut lelaki tersebut seraya menarik leher wanita muda itu mendekat kearah wajahnya. Dan mencium tengkuk berbulu halus itu. Winda merasa geli dan merinding, sebab gairahnya mulai terpicu. Lalu ia merebahkan kepala Winda di bahunya di sepanjang jalan yang macet, pada penurunan Lembah Anai tersebut. Sesekali ia meraba pipi wanita muda tersebut
”Pipi dik Win halus dan bersih” tambah Johan. Winda diam saja.
”Biasalah laki-laki, suka menyanjung. Seperti biasa dilakukan suamiku sebelum menciumi aku” batin Winda.

Winda pun lalu berusaha memicingkan matanya. Namun saat laju mobilnya terhenti karena macet Johan mencoba menciumi pipi kirinya terus turun hingga menemukan bibir tipis yang tersaput merah dan mengecupnya sesaat. Winda berusaha mengatupkan bibirnya namun tangan kanan Johan berusaha masuk kedalam kaos panjang lengan putih bergaris pakaian atasnya itu melalui bawah kaos. Tangan lelaki itu menyentuh pembungkus dadanya yang membusung. Winda memejamkan matanya

”Uhhh...’desah wanita muda itu perlahan. Sehingga Winda tidak dapat berbuat apa apa selain hanya menikmati dan larut karena tangan kanannya saat itu masih memegang penutup kapalanya di pangkuan. Beberapa saat kemudian Johan menarik tangannya dan kembali melajukan truknya menuju arah Sicincin saat macet telah berakhir.

Saat di jalan Sicincin itu mobil saat itu berjalan perlahan karena macet, meski tangan kirinya di stir Johan dengan tangan kanannya merengkuh wajah Winda, dan tiba-tiba saja bibir wanita muda tersebut di lumatnya. Winda langsung saja terpana dan kaget, mukanya memerah. Namun Winda tidak bisa marah karena rasa nikmat yang mulai timbul .. Akhirnya Johan melepaskan bibir merah milik Winda. Namun tangan kiri Johan kini meremas jari lentiknya. Sehabis jari wanita muda itu di remasnya, tangannya mulai merayap masuk ke dalam melalui belahan atas kaos panjang lengan yang bergaris putih yang saat itu ia kenakan berpadu dengan celana panjang. Winda sadar dan menahan laju tangan tersebut dengan tangan kirinya. Saat itu baru bagian perutnya yang tersentuh oleh tangan Johan. Terasa hangat dan kasar. Tangan Johan lalu keluar dan dia kembali asyik dengan stir.

Saat memasuki jalan by pass…Jalanan gelap sekali hanya beberapa tempat saja yang di terangi lampu jalan, Johan menepi dan menghentikan truknya di pinggir jalan.

”Kenapa berhenti bang?” tanya Winda bingung.
Johan diam saja tak menjawab, dan kembali merengkuh bahu wanita muda tersebut. Menariknya mendekat kearahnya. Dan diatas mitsubishi colt berwarna kuning tersebut bibir Winda kembali dikecupnya. Tidak saja di kecupnya, kuluman dan lumatan juga dilakukan Johan pada bibir lembut wanita cantik tersebut. Mengelitiki setiap ujung bibir tipis tersebut dengan tekun. Sedikit demi sedikit gairah dalam tubuh wanita muda tersebut bangkit. Winda membalas setiap lumatan bibir Johan, membuka mulutnya memberikan keleluasaan pada lidah Johan untuk menikmati kebasahan di dalamnya. Lidah mereka saling berpilin, membelit di dalam. Tangan kanan Johan merayap masuk kedalam kaos panjangnya melalui bagian bawahnya, bergerak naik keatas menemukan bukit membusung padat di sebelah kanan lalun meremas dan memijit bukit padat milik Winda tersebut dari luar bahan pembungkusnya. Wanita muda tersebut seolah tak mampu menolaknya. Winda berusaha melepaskan tangan Johan, namun keinginannya di kalahkan oleh hasratnya yang telah terpicu. Dirasakannya begitu hangat dan cekatan tangan lelaki itu mengirimkan berjuta-juta sengatan birahi disana. Tubuh indahnya mulai menggeliat-geliat dalam dekapan Johan di dera nikmat pada sekujur pori-porinya. Selang sekitar 25 menit kemudian Johan menghentikan perbuatannya.

”Jangan disini, daerahnya rawan sering terjadi perampasan” ujarnya kuatir kemudian.

Winda diam, membenahi pakaiannya mulai dari kaos dan penutup kepalanya, juga membenahi napasnya yang sempat memburu disertai gairahnya yang sempat meninggi. Lagi pula persimpangan arah ke rumahnya telah dekat. Mobil Mitsubishi kuning itu pun kembali bergerak. Winda terdiam selama perjalanan menuju persimpangan rumahnya. Ada penyesalan dalam dirinya saat itu bisa terlibat sejauh itu, namun seakan terhapuskan rasa yang timbul akibat perlakuan lelaki tersebut pada dirinya. Begitu sesampainya Winda di rumahnya sekitar pukul setengah sepuluh malam itu Winda langsung mandi. Ternyata suaminya masih berada di kampus.

Malam itu Winda sempat bersetubuh dengan suaminya Winda heran malam itu ia kurang bergairah seolah hanya terpaksa menjalankan kewajiban saja.

”Sudah lama kita tidak berhubungan dik” kata suaminya. Winda merasa berhutang pada suaminya karena memang dalam minggu ini mereka belum pernah berhubungan badan. Dengan enggan Windapun menuruti keinginan suaminya. Di ranjang mereka malam itu ditengah kesibukan suaminya mengayuh biduk asmara mereka, tiba-tiba datang sekelebat bayangan berupa sosok Johan. Langsung gairah dan nafsunya mereda. Winda langsung kehilangan gairah di tengah pergumulan mereka, namun demi menjalankan tugasnya sebagai istri, maka Winda berpura-pura menikmati hubungan itu hingga selesai.

Aktifitas Winda kembali seperti biasa hingga ia kembali ke Pasaman, daerah tempat bekerjanya. Dan bekerja seperti biasanya.

Hari itu hari Selasa. Saat ia pulang ke kost-anya. Didapatinya rumah dalam keadaan kosong. Rupanya sang ibu kost beserta suaminya berangkat ke Palembang mengunjungi salah seorang anaknya di sana. Dan praktis hanya Winda yang berada di rumah itu. Johan dan juga tak kelihatan. Besoknya pada hari rabu Johan muncul namun tidak dengan truknya.

”Truk sedang diperbaiki di bengkel” ujarnya Johan menerangkan pada Winda saat menanyakan truknya. Malam itu Johan mengajak Winda.

”Win udah makan Win?”tanya Johan.
”Belum bang” sahut Winda.
”Ayo kita makan keluar, ada tempat makan yang bagus, daerahnya dingin dan sepi" terang Johan mengajak wanita muda tersebut.
”Boleh bang” sahut Winda.
"Tapi ga lama kan bang?” sambung Winda kembali.

Lalu Windapun masuk ke kamarnya dan berganti pakaian. Mengenakan kaos panjang lengan berwarna merah muda dan jaket serta bawahan celana panjang berbahan katun hitam kemudian berangkat bersamanya. Kebetulan ada mobil kakaknya yang ditinggal. Sebuah toyota starlet berwarna merah. Mereka berangkat sekitar jam 7 malam itu. Tempat yang mereka tuju terletak agak jauh arah ke Medan tetapi masih di wilayah Lubuk Sikaping sekitar 1 jam perjalanan dari ibukota kabupaten tempat tinggalnya. Saat itu Johan mengenakan kaos oblongnya dan jeans biru

Mereka makan di sebuah warung makan yang terbuat dari anyaman bambu menyerupai saung yang dinding setinggi tertutup setinggi bahu orang dewasa. Mereka makan ikan bakar dan duduk secara lesehan. Winda berada pada sisi kanannya Johan. Memang tempatnya amat romantis, apalagi saung itu lampunya redup dan bunyi jangkrik, meningkahi suasana makan mereka. Mereka makan, berbincang, bercanda dan sesekali saling menyuapi. Setelah makan mereka duduk bersantai.

Mereka mulai saling berciuman, saling berpelukan erat. Winda terlena oleh suasana. Winda rebah di pangkuan pada paha kirinya Johan.

Winda memegang lengan Johan. Wajah mereka saling tatap dalam senyuman. Perlahan Johan membelai wajah wanita muda tersebut. Merabai kehalusan kulitnya. Wajahnya menunduk turun mendekati wajah Winda. Winda merasakan jantungnya berdegup kencang Johan mengecup kepala Winda yang masih tertutup, turun kekeningnya terus ke pipi yang licin dan bergerak naik menjumpai sepasang bibir lembut yang memerah. Di kecupnya perlahan. Winda memejamkan matanya saat bibir berkumis lelaki itu mulai melumat bibir tipisnya. Awalnya Winda hanya diam namun akhirnya Winda mulai menerima dan bereaksi dan ikut arus lumatannya. Ada hawa kuat yang menggiringnya untuk mengikuti alunan gairah yang diberikan Johan.

Lidah mereka telah saling belit dalam kebasahan mulut Winda. Sedangkan tangan kiri Johan telah mulai merayap. Awalnya mengelus leher bagian dalam terus turun masuknya lewat lobang krah ke arah dada dan masuk kebalik bra dan meremasputing bukit padatnya yang membulat dengan perlahan. Rabaan tangan kanan Johan merayap di sepanjang batang paha Winda mengelusnya bergantian paha kiri dan kanan tak terlewatkan meski kedua kaki Winda tetap rapat. Menurun pada bagian dalamnya dan mengelusnya dengan lembut. Lecutan gairah segera meletup dalam diri Winda. Napasnya mulai memburu, tersengal-sengal.

Kurang lebih 1 jam kemudian baru mereka pulang ke rumah. Saat di mobil kejadian itu terjadi lagi pada perjalanan pulang sekitar 5 menit. Mobil starlet merah itu sengaja di hentikan Johan. Didalam mobil itu masih di kursi depan Johan kembali meraba dengan tangan kirinya. wajah dan terus ke dada Winda yang saat itu masih terbungkus kaos panjangnya. Johan pun melumat bibir tipisnya. Winda hanya bisa diam meski lidah Johan dengan leluasa telah mengait-ngait lidahnya dalam mulutnya... agak lama.... sebelah tangan Johan lalu berusaha masuk kedalam celana panjang katun yang Winda kenakan, tangan kiri itu menyelinap masuk dan mulai menyentuh bagian kewanitaannya diluar pakaian dalamnya Winda seperti tersengat... geli. namun Winda menariknya kembali tangan tersebut beraksi beberapa saat.

”Jangan bang Winda udah mempunyai suami dan anak” ujar Winda lirih.
”Winda malu...”tambah Winda mencoba menahan keinginan Johan saat itu disela –sela napsunya yang telah bangkit hampir membakar dirinya.

Johanpun menurut dan kembali menghidupkan mesin mobil berangkat menuju rumah. Dan begitu sampai mereka langsung masuk rumah. Winda masuk kerumah pavilunnya dan terus masuk ke dalam kamar. Sedangkan Johan pergi lagi, ada urusan katanya. Padahal saat itu Winda sudah sangat terangsang, batinnya menuntut pelepasan dan kalaupun dia datang menemuinya kembali untuk menuntaskan apa yang mereka telah mulai... Winda pun takkan kuasa menolak rasanya. Tetapi tampaknya Johan memang tengah berusaha memancingnya. Paginya Windapun kembali menjalankan aktifitasnya di kantor seperti biasanya

Malamnya, malam Jumat itu mereka kembali makan malam bersama diluar namun tidak di tempat kemaren malam itu. Dengan arah yang sama ke arah Medan, tapi berbelok kekanan. Suasana tempatnya seperti umumnya restoran, ada beberapa orang singgah untuk makan. Tempatnya juga tidak begitu ramai. Winda maklum Johan mengajaknya ke luar dari kota itu agar mereka tidak di pergoki oleh temannya ataupun teman sekantornya Winda. mereka hanya makan saja, kemesraan mereka tidak seperti kemaren malam. Malam ini mereka hanya saling berpegangan tangan saja. Dan setelah itu mereka langsung pulang

Malam Jumat itu Winda telah jatuh dalam pelukan dan takluk pada keperkasaan Johan di atas ranjang. Ya.., semalaman mereka berhubungan hingga pagi.

Pagi hari Johan bangun terlebih dahulu, meninggalkan Winda masih terlelap di ranjang yang telah acak-acakan tersebut. Saat Winda bangun ada sedikit rasa sesal di hatinya, selangkangannya terasa sedikit nyilu. Masih tertera dalam benaknya bagaimana perlakuan Johan pada setiap sudut tubuhnya, terutama saat-saat penetrasi yang dramatis. Pagi Jumat itu Winda mandi sebersih-bersihnya, berusaha agar jejak-jejak di tubuhnya hilang. Ya…, Winda kuatir jika jejak-jejak itu akan terlihat. Jejaknya mungkin bisa hilang, tapi nikmatnya tidak akan pernah hilang, juga sprei tempat tidurnya direndamnya juga..

Winda masuk kantor pagi Jumat itu seperti biasanya. Dari kantor Winda menelepon ke Padang memberi tahu suaminya bahwa ia tidak bisa pulang, ada urusan kantor yang harus di bereskan, demikian alasannya. Winda berbohong, berusaha untuk mendapatkan tengat waktu yang cukup untuk menghilangkan jejak memerah di tubuhnya dan mencari penyelamatan diri dari perselingkuhan yang tidak dihendakinya itu

Di kantor seperti biasa, Winda menyelesaikan dengan baik seluruh pekerjaannya hingga sekitar jam setengah 5 sore Jumat itu. Segera ia pulang. Sesampai di rumah wanita berkulit putih itu langsung menuju kamar mandi, mencuci pakaian dan sprei yang telah ia rendam pagi itu. Dan setelahnya langsung mandi. Winda saat itu mengenakan kaos bertangan panjang, dan celana panjang santai berwarna hijau muda berikut penutup kepala seperti biasa, Terlihat segar dan cantik ia sore itu.

Kembali di dalam rumah paviliunnya itu Winda berkutat di dapur memasak untuk dirinya sendiri. Lalu membereskan kamarnya, merapikan semua yang dianggapnya tidak pada tempatnya.

Senja itu sekitar pukul 6 sore. Itu Johan datang. Tanpa bicara sepatahpun langsung ia menuju rumah induk dan terdengar mandi. Mengenakan kemeja panjang, sesaat kemudian Johan mendatangi wanita muda yang tengah duduk di ruang tamu pavilion kamarnya itu. Sambil berdiri di pintu ia bertanya pada Winda

“Winda, pulang ke Padang ‘gak”?.
“Mana bisa Winda pulang..“, sambil berdiri di pintu paviliun Winda sewot menjawab.
“Winda belum siap ke Padang masih takut pada kesalahan yang terjadi malam kemaren” tambah wanita bertubuh sintal itu...
“di tubuh ini penuh jejak perbuatan abang”
“Apalagi jika suami Winda minta, jatah bisa kiamat” ujar wanita muda tersebut menerangkan.

Johan hanya tersenyum dan duduk di sebelah kanan Winda. Lalu ia berkata.

“Abang mau pergi ke Medan malam itu untuk 3 hari” tambahnya. Kemudian dia meraih jemari wanita muda tersebut.
“ Uda sayang bana ka Winda (abang sangat menyayangi Winda)” Winda diam saja, merasa percuma untuk menolak karena sudah tidak ada lagi yang perlu ia pertahankan, sebab hubungan yang tercipta diantara mereka sudah tak ada batas lagi sejak malam Jumat yang bergelora kemaren.

Johan berjalan menghampiri Winda yang duduk dengan tangan masih berada di pangkuannya, memandang mata memandang kedepan, menerawangnya. Mengajaknya agar duduk di sebelah kirinya. Lebih dekat pada sofa di ruangan itu. Kedua tangan Johan berada berada pada bahu kiri Winda, perlahan lelaki itu mendekatkan wajahnya, dan mulai mengecup. Bibir berkumisnya berlabuh pada kening wanita bertubuh sintal itu… Winda diam membiarkan saja, bibir berkumis tersebut meluncur turun di sepanjang pipi halusnya sambil tak henti mengecup pipi sebelah kiri tersebut, dari dahinya menuju dagu yang lancip, naik keatas menemukan kedua bibir lembut wanita muda dan langsung melumat

Beberapa saat Winda membiarkan dan menerima saja perlakuan Johan pada bibirnya itu. Lelaki gagah itu kini menjulurkan lidahnya, menyelusuri permukaan lembut bibir Winda mili demi mili, mendesak kedua bibir tersebut agar memberikan jalan, meyelusuri setiap permukaan gusi dengan lembut dan perlahan. Kedua bibir wanita muda tersebut membuka dengan perlahan, iapun terus mengulum rongga mulutnya beberapa saat hingga Winda tergerak membalasnya…, mulai menghisap.. dan kedua tangannya dengan nakal menjamah dada Winda yang saat itu masih berpakaian lengkap. Winda menengadahkan kepalanya menyambut dengan sukacita. Tubuhnya mulai bersandar ke bahu lelaki tersebut. Winda mengikuti saja... tindakannya tubuhnya mengeliat-geliat dalam geli yang memabukkan.

Lalu diapun melepaskan pagutan pada bibirnya. Johan berdiri melangkah ke arah pintu, menutupnya dan kembali kearah wanita muda tersebut. Ditariknya tangan kanan Winda untuk masuk kamarnya. Dalam cahaya lampu yang terang Winda tak sedikitpun berusaha menolak. Merebahkan Winda di ranjang biru muda dalam kamarnya, terlentang…, lalu melepaskan busana Winda termasuk pakaian dalamnya yang berwarna putih, juga pakaian yang dikenakannya termasuk pakaian dalam biru tuanya yang membungkus pertemuan pahanya. dengan cepat tergesa-gesa sekali.., melemparkan semuanya di lantai. Winda hanya memandang dengan nafas yang mulai tak teratur. Ada ketakutan dan keinginan kuat yang bercampur Winda tau Johan ingin melakukannya lagi seperti juga keinginannya juga. Masih terpatri kuat dalam benaknya kejadian malam sebelumnya yang sangat melenakannya.... Winda terlentang pasrah, tubuh Johan mulai menindih, dan kedua kaki wanita muda itu di bukanya. Winda yang tengah memeluk bahu lelaki itu, tak sadari saat ia telah memasukkan kejantanannya pada kewanitaan Winda. Hanya rasa nyilu terbit dari pertemuan pahanya, tubuhnya terlonjak kekiri dan kekanan. Lelaki itu bergerak perlahan, menghunjamkan pinggulnya pada pertemuan kedua paha Winda yang kedua kakinya terbuka lebar.., dengan tempo yang teratur. Pinggul wanita muda itu menyentak keatas, menyambutnya, menjemput hunjaman batang kokoh tersebut… hingga akhirnya Johan menghunjam dengan kuat, mendesakkan kejantanannya se dalam-dalamnya, menggeram…, dan mencapai klimaks. Melepaskan semuanya didalam tubuh wanita muda itu. Lalu tubuhnya jatuh masih diatas tubuh wanita berkulit putih tersebut... Padahal Winda belum apa-apa. Setelah ia sampai klimaks iapun berdiri mengenakan pakaiannya kembali, menjauh darinya masih dalam kamar tersebut.

“Abang akan ke Medan jadi tadi itu adalah rasa yang ingin abang sampaikan pada Winda”, ucap Johan.
“abang minta maaf, abang tau Winda belum apa- apa, lain kali abang akan memuaskan dik Win”, tambah lelaki berkulit gelap tersebut. Winda merasa aneh, Johan malah minta maaf karena persetubuhan itu hanya memuaskan satu pihak saja. Johan minta izin berangkat malam itu kira - kira jam 9 malam. Malam itu Winda tinggal sendiri di kamarnya, ada rasa kecewa karena Winda merasa hanya jadi sarana pelampiasan nafsu Johan saja.

Dan Sabtu itu Winda tetap di rumah saja, karena Johan ke Medan selama 3 hari. Merapikan rumah, dan membereskan pakaian untuk bekerjanya Senin nanti. Jam 10 pagi suaminya telpon. bahwa dia dan anaknya akan ke Bukittinggi hari Sabtu itu sekalian singgah di tempatnya. Suaminya datang sekitar jam 3 sore dengan mobil mereka di tempatnya bersama anaknya berikut mertua Winda. Seharian itu Winda asyik dengan anak dan suaminya... jalan - jalan di daerah itu. Tak sedikitpun ada kesempatan atau waktu bagi wanita muda tersebut dan suaminya untuk dapat sedikit bermesraan dan berhubungan layaknya suami istri. Minggu sore sekitar jam jam 5 sore suaminya pulang ke Padang. Windapun kembali larut dengan rutinitasnya..

Saat itu Winda baru pulang dari kantor sekitar jam 5 sore. Masih sendirian dia karena kakaknya Johan masih belum pulang Winda pun mandi membersihkan badannya, karena capai seharian kerja. Selasa malam itu Johan pulang. Dia pun langsung ke rumah dan mandi. Saat itu Winda mengenakan kimono tidur berikut penutup kepala seperti biasa dan celana panjang bermotif bunga. Mengenakan pakai celana pendek dan hanya kaos kutang Johan lalu menemui Winda di kamarnya dan minta Winda menemaninya makan, di dalam rumah kakaknya sebab saat itu ia membawa oleh - oleh makanan yang ia beli di jalan. Winda yang merasakan lapar akhirnya mau menemaninya makan senja itu.

“ Win, uda bali nasi jo gulai kambiang di tampek langganan, lamak mah, kawani uda makan yo (Win, abang, beli nasi dengan gulai kambing di tempat langganan, ini enak Win, kawani abang makan ya)?”,kata Johan. Winda menurut saja dan menyajikan makanan itu untuk mereka makan malam itu. Setelah makan Winda merasakan makanan amat kentara ‘panas’nya ‘maklum gulai kambing’ pikirnya tubuhnya memanas peluhnya keluar .hingga keningnya basah, Johan juga begitu.

Setelah makan saat itu mereka duduk berhadapan, masih di dalam rumah itu. Winda menceritakan tentang kedatangan suaminya hari Sabtu itu kepada Johan. Johan hanya tersenyum simpul dan tidak sedikitpun merasa iri atau cemburu mendengar penuturan wanita muda berkulit putih itu. Kemudian ia berdiri dan meraih tangan kanan Winda dan menariknya kearah kamarnya. Winda agak keberatan, berusaha melepaskan tangannya karena tak terbiasa…

“ Ado apo kok Winda di bao ka siko da (ada apa kok Winda di bawa kesini)?, tanya Winda jengah.
“ Ado sasuatu untuak Winda (ada sesuatu buat Winda)” jawabnya...

Winda dengan sedikit menahan diri melangkah ke kamar yang terletak di sebelah kiri terpisah dari rumah induk berlantai kayu itu dengan bergandengan tangan. Winda dimintanya duduk di tepian kasur spring bed dalam kamar itu, kakinya menjuntai. Winda duduk saja mengikuti permintaannya karena Johan memohon dengan amat sangat, tak terbersit sedikitpun akan hal- hal yang dapat terjadi pada benak wanita cantik tersebut, menurut saja. Springbednya 1 lapis saja sudah lusuh dan jarang dicuci sepertinya. Juga bau rokok dan minuman terbersit pada hidung wanita bertubuh sintal itu. Winda memaklumi kamarnya yang agak jorok dan di sana sini banyak puntung rokok dan botol - botol minuman..

Kemudian Johan memgeluarkan sesuatu dari dalam laci meja di kamarnya berbentuk kotak berwarna hitam. Rupanya ia baru saja membeli sebuah kalung berwarna seperti emas putih. Winda merasa tersanjung atas sikapnya itu dan merasa terpuji..

“Iko hadiah (ini hadiah)” katanya.
“ Uda mintak Winda mamakainyo kini juo (Abang minta Winda mau memakainya sekarang juga)” pintanya. Winda berusaha menolak
“Indak usahlah da…malu...” katanya dengan tersipu-sipu. dan merasa tidak ingin memakainya namun Johan yang saat itu berdiri di depannya terus memaksa. Akhirnya dengan terpaksa, Winda membiarkan lelaki itu bergerak kebelakang untuk melepaskan kalung itu yang tengah dipakainya. Winda menurut membiarkan, malah membantunya. Johan melepas penutup kepala Winda yang kemudian di letakkannya dia atas ranjang, serta melepas kalung yang selama itu membelit di lehernya. kemudian memberikan kalung yang selama ini Winda kenakan ketangan Winda, dan memasangkannya kalung berwarna putih itu pada leher mulusnya dari arah belakang, dan mulai saat itu Winda memakai kalung pemberian Johan.

Setelah kalung putih tersebut terpakai, Johan mulai menciumi dan mengelus tengkuk sebelah kanannya. Tangan satunya merangkul pinggang Winda dari belakang. Winda merinding, kepalanya menunduk karena geli, Winda berusaha menolakkan kepala Johan dengan tangan kanannya namun Johan terus saja menciumi tengkuknya, Winda kegelian… dan Johan tak juga berhenti, sedangkan tangan kirinya sudah tidak berada di bahunya lagi, bergerak melalui ketiak ke depan, pada bukit padat yang membusung di dada Winda.

“Uhhh…..”Winda mengeluh merasakan gairahnya kembali terbit, lalu jemari kedua tangannya, memilin bukit padat yang membusung di dada Winda yang saat itu masih terbalut kimono dan pakaian dalamnya. Winda lalu berusaha melepas tangan Johan yang berada di dadanya, namun tidak bisa karena tenaganya lelaki tersebut kuat tak tergoyahkan…! Hingga kancing kimono itu akhirnya dilepaskan Johan. Winda diam saja hingga pakaian tersebut jatuh ke lantai. Membaringkan tubuh sintal yang terbuka pada bagian depannya hingga pinggang itu di atas ranjang. Hanya dua buah cup berwarna hijau muda polos, berukuran 34b yang masih menutupi bukit padat yang membusung indah di dada pemiliknya.

Perlahan Johan menciumi belahan dada yamg memutih mulus itu, mata Winda memicing menikmati rasa geli yang timbul.

“Ahh……..”rintih wanita muda tersebut tak henti-hentinya. Hingga akhirnya penutup dada Winda lepas dan membebaskan bukit padat di dada wanita muda itu bersentuhan dengan udara bebas. Johan membalikkan tubuh Winda menyamping, hingga mereka berhadapan. Tangannya meraih kebelakang, pengait penutup dada Winda dilepaskan berikut kimononya. Tak sedikitpun wanita muda tersebut berusaha melarang atau menolak, karena dirinyapun telah tak punya lagi yang harus dipertahankan. Saat itu pakaian atasnya sudah lepas, tubuh mulus memutih tersebut telanjang hingga pinggang. Pikirannya kosong… Hanya tinggal celana panjang yang masih pada tempatnya. Kembali Johan membalikkan tubuh mulus itu menelentang, mulai berusaha menarik celana tersebut. Winda membiarkan saja menatap sendu pada wajah lelaki gagah tersebut. malah membantu mempermudah dengan mengangkat pinggul hingga pakaian dalam yang berukuran medium dan berwarna putih polos yang merupakan lembaran kain terakhirnyapun hingga meluncur turun pada kedua tungkai mulusnya dan lepas dilantai. Winda telanjang dan terkulai pasrah didera nafsunya yang mulai bergelora.

Johanpun berdiri, melepas semua kain yang melekat di tubuhnya, dalam tatapan pasrah Winda yang terlentang… telanjang. Lalu rebah di samping kiri nya. Winda pun mulai menginginkannya, mungkin karena pengaruh makanan tadi membuat tubuhnya seakan amat panas bergairah. Johan bergerak ia terus membelai dari dada hingga pusat kewanitaannya. Jari tangan kanannya masuk ke dalam lepitan kewanitaan yang basah…,!!! dibantu oleh kedua kaki Winda yang membuka memberikan jalan... Winda hanya bisa menatap mata Johan.., menggeliat bak cacing kepanasan dan merintih…

“Ohh………”. Lalu Johan berdiri dalam tatapan Winda pada punggungnya dia dan mengambil sebuah botol berwarna hitam yang terletak di atas lemarinya. dan kembali duduk di samping kiri wanita muda yang telah telanjang tersebut. Menuangkan isinya yang berwarna merah, keatas perutnya hingga dada dan lehernya amat wangi. Lalu ia menjilat cairan itu yang sudah tumpah di atas kulit perut dan noktah pusarnya hingga leher, ada rasa geli dingin dan gairah yang Winda rasakan dalam sinar lampu kamar yang saat itu terang benderang. Ia menjilatnya hingga tandas, lalu kepala Johan turun, meluncur kearah kewanitaannya, tubuhnya kembali berada di lantai, dengan kedua tangan tak henti-hentinya menggeluti bukit padat pada dada wanita bertubuh sintal tersebut.. Spontan kedua kaki Winda membuka, dirinya terangsang hebat…..

Saat dirinya yang diam menikmati, Johanpun membuka kewanitaan Winda dengan jemari tangan kanannya, lalu menjilatnya dengan lidahnya yang terasa kasar. Wanita bertubuh mulus itu hanya bisa menggeliat dan merintih-rintih. Winda memiringkan tubuh karena nikmat dan geli yang dirasakan bersamaan. menarik kepala lelaki itu. Dengan intens lidah Johan.... terus bermain di liang kewanitaan wanita bertubuh sintal tersebut, memggelitiki bagian lembut yang memerah muda dan telah badah itu. Tampaknya ia amat ingin menyempurnakan dan menuntaskan gairah yang makin membulak-bulak yang melanda tubuh sintal itu.., beberapa saat kemudian Winda... orgasme...!!! Tubuhnya mengejang.., pinggulnya menelikung keatas sambil merintih dengan keras. Saat itu Winda hanya bisa memicingkan mata… kejang,.. dan merintih.. , semua cairan kewanitaan miliknya dihisap Johan...!!!

Johan bangkit .lalu ia memandang wanita sintal yang terbaring bersimbah keringat. Tangannya yang berbulu kekar membuka kedua kaki Winda yang mulai merapat kembali, lalu meraih tangan kanan Winda dengan tangan kanannya, tiba-tiba saja Winda merasakan.. menyentuh dan memegang.. sebuah tonggak yang kuat. Dirinya kaget, rupanya Johan menarik tangan wanita muda itu agar memegang batang kejantanannya yang kokoh. Winda takjub karena ukurannya yang luarbiasa.. Karena agak takut dilepaskannya kembali. Namun Johan dengan cepat menarik tangan wanita berkulit putih itu agar kembali memegangnya. Winda menggenggamnya sambil memandang ke wajah lelaki yang terbaring di sampingnya dengan rasa kuatir takut akan menyakitinya.., beberapa saat kemudian Winda melepaskannya kembali…

Lalu Johan merangkak di atas tubuhnya yang telah lemas dan telentang. Kedua kaki wanita muda di di bukanya dan ia berjongkok memposisikan kejantanannya dengan tangan kanannya tepat pada lepitan basahnya. Menggesek-gesekkannya seperti kebiasaannya, Windapun turut bergerak, menggeser pinggulnya agar ujung membola batang kokoh itu tepat pada lepitan kewanitaannya. Winda memicingkan mata yang ada hanya perasaan geli dan ingin cepat - cepat di masuki saja… Lalu batang kaku itu masuk pelan pelan dengan lancar, awalnya geli, basah dan sebentuk benda hidup masuk.., sudah tidak sakit lagi…!!!

“Uhh….”rintih Winda. Tubuh Winda terlonjak saat langsung mentok..! Kedua kakinya tetap terbuka. Kembali seluruh tubuh wanita itu di eksplorasi Johan dengan tangannya hingga Winda merasa sangat amat bergairah. Sedang kedua tangan wanita muda bertubuh sintal itu di bukanya dan jari merekapun saling mengenggam .di samping bahu telanjang wanita muda itu. Lidahnya menggigit dan menjilati bukit padat berikut puncaknya di dada wanita berkulit putih tersebut perlahan. Bergantian sebelah kiri dan kanan . Lalu... lelaki itu bergerak menarik pinggulnya perlahan, sehingga lepitan kewanitan Winda seperti tertarik keluar dan sebaliknya saat batang kokoh tersebut menusuk ke dalam. Kepala wanita muda terlempar ke kiri dan ke kanan saking nikmatnya rasa yang menderanya. Pinggul padatnya bergerak menyambut dengan memutar di bawah karena terangsang hebat aliran strum birahi dan sesekali menyentak keatas ke bawah pada setiap hujamannya.

“Ahh……..”klimaks kembali menghampiri wanita muda tersebut. Ada rasa seperti tersengat listrik..., tubuhnya melengkung keatas dan kedua kakinya menjepit pinggangnya di belakang. Seluruh tubuhnya mengeletar dengan pinggul yang bergerak liar. Winda ingin ia berlama lama dan tak cepat klimaks. Kewanitaannya ber denyut-denyut seolah menjepit merapat dengan kuat. Membuat Johan amat bernafsu sekali dan bergerak makin cepat. Saat itu yang membuat Winda merasa takjup saat Johan memompa itu amatlah kuat, iramanya perlahan dengan batang kejantanannya yang kokoh tak henti menghunjam dan hingga beberapa kali dan kira - kira 15 menit kemudian itu Johan semakin cepat dan menumpahkan spermanya sambil menggeram Ada rasa hangat tumpah dalam kewanitaannya.., di rahimnya.

Johanpun mendiamkan kejantanannya di dalam beberapa saat Lalu menggelosoh kesamping.. Kepuasan terpancar pada wajah wanita muda tersebut. Semburat memerah terbit pada wajahnya. Berpelukan mereka terbaring dia tas ranjang yang telah basah dan acak-acakan tersebut. Winda terpejam dan merasa hangat pada kewanitaannya. Winda puas…

Kemudian Johan berdiri dan melangkah masuk kekamar mandi. Winda hanya memandang, terlentang dan telanjang dengan kaki masih terbuka, yang ada dalam pikiran saat itu hanya rasa lepas, puas dan tubuh capai, kehabisan tenaga dan daya.

Rupanya ia baru saja mandi, saat Winda melihatnya keluar dari kamar mandi dengan berlilitkan handuk pada pinggangnya. Johanpun lantas meminta Winda untuk membersihkan diri di kamar mandi itu. Windapun menurut dan beranjak ke kamar mandi, telanjang…

Dalam kamar mandi itu Winda mengguyur tubuhnya dengan air dingin, segar sekali rasanya. Sewaktu menyabuni tak sedikitpun terbayangkan perlakuan Johan sebelumnya pada bagian - bagian tubuh mulusnya, yang penting tubuhnya bersih dan tidak ada keringat ataupun sisa bau tubuh Johan.

Lalu Winda melongok ke luar kamar mandi Winda meminta handuk untuk menutupi tubuh telanjangnya yang telah segar. Johan mendekat memberikan handuk yang ia pakai, untuk menutupi dan mengeringkan tubuh wanita muda yang basah setelah mandi. Winda melangkah keluar dari kamar mandi dengan menakai handuk yang berwarna biru muda, agak kotor dan bau, mungkin jarang di cuci, namun Winda tidak mempunyai pilihan.

Di kamar Winda pun kembali mencari cari untuk mengenakan pakaian dalamnya namun tidak ada dan Winda bertanya. Akhirnya carik segitiga itu dapat di temukan Johan tergeletak di sudut ranjang-nya. Winda tidak sadar bahwa benda kecil itu tadinya terlempar oleh perbuatan mereka berdua. Johan berdiri mendekati di depan Winda. Winda berusaha merebut kain segitiga penutup pertemuan pahanya dari tangan Johan. Sambil bercanda Johan melemparkan benda itu ke atas ranjang. Winda bergerak cepat meraihnya, hampir dapat namun tak di duganya handuk yang melilit tubuh sintalnya terlepas dari tubuhnya.

“Aw… ah.. ah.. uda (aw… ah.. ah.. abang)”, Winda menjerit manja. Winda kembali telanjang, berusaha menutup pertemuan pahanya dengan tangannya. Johan yang telah mengenakan celana dalam itu kembali memeluknya. Winda langsung terjerembab jatuh ke atas ranjang itu diikuti tubuh lelaki dan langsung ditindih oleh tubuh besarnya yang masih lembab sehabis mandi.

Johan berusaha menciumi bibir wanita menggairahkan tersebut. Winda yang gelagapan tak menduganya menerima perlakuannya itu sehingga mereka saling kulum. Saat itu Winda pun tidak mau kalah, membalas setiap hisapan lidah Johan Sementara kedua tangan berada di samping kepala Winda, sedangkan naluriah tangan Winda mendekap bahunya. Di bawah, Winda hanya bisa membalas perlakuan bibir dan lidah Johan, meskipun kedua kakinya telah membuka, menempatkan tubuh Johan diantaranya.

Tangan kirinya lalu meraih bukit padat membulat di dada Winda dan meremasnya, bibir berkumis lelaki itupun ikut andil dengan memberi gigitan kecil pada bukit padat yang membusung pada bagian kanan sehingga Winda mulai bernafsu lagi dan mengikuti tindakan Lelaki itu serta dan membalasnya.. Tangan kiri Johan lalu menyelusuri perut turun kearah bawah pusar menemukan gundukan hangat kewanitaan Winda, dan jarinya masuk kedalam..!! Winda semakin tidak karuan, Winda sudah mulai basah, gejolak tubuhnya sudah menegang, mendesah…

Sementara tangannya masih meremas kedua bukit membusung di dada Winda yang puncaknya semakin menjulang, tubuh Johan turun, membuat rasa basahnya semakin menjadi - jadi saat kepala Johan ikut turun, menjilat seluruh isi kewanitaannya. Winda tentu saja menjepit kepalanya karena rasa geli.., gairah.., dan rasa yang seakan meledak di dalam tubuhnya sementara kedua tangannya berada pada kepala lelaki tersebut, menarik dan menjambak rambutnya..!! Winda mendengus,

“Mnnnh ah mm ugh… mm”, Winda mulai merasakan ada aliran basah mengalir dari dalam kewanitaannya.

Kemudian Johan bangkit dan berdiri, memposisikan tubuhnya sejajar diatas tubuh indah wanita muda tersebut. Tubuhmya telah telanjang juga . Rupanya saat melakukan rangsangan pada Winda, Johan juga melucuti pakaian dalamnya sendiri. Dengan kedua tangannya diraihnya kedua kaki wanita muda itu dan membukanya, sementara Winda hanya bisa memegang dengan erat kain sprei... Johan mengarahkan batang kokoh kejantanannya, bersiap memasuki tubuh wanita muda yang telah terkangkang pasrah itu. Winda tak berani memandang ke bawah dan hanya menatap ke samping karena agak malu, kuatir dan jengah... Perlahan Winda merasakan sebentuk batang yang kokoh tengah memasuki tubuhnya di bawah. Wanita muda itu menggigit bibir bawahnya karena dirasakannya masih terasa seret dan nyilu. Tak dapat lagi ia hentikan karena telah mulai masuk.., rasanya panas dan kaku..! Lelaki itu bergerak memajukan pinggulnya, mendorong batang tegangnya hingga masuk semuanya..

“Ou... uhh..” erang Winda saat batang tegang yang kaku itu amblas terbenam…, tubuhnya menggial… matanya memicing... dengan tangan mencengkeram sprei. Winda tau keseluruhan batang tegang Johan telah terbenam amblas dalam kewanitannya saat terasa selangkangan lelaki itu saat berbenturan dengan pertemuan kedua paha Winda. Johan diam beberapa saat. Perlahan ditariknya kembali. Terasa lepitan kewanitannya tertarik kembali. Saat Winda mulai merasakan nyaman pada kewanitaannya dengan batang tegang itu didalamnya. Winda mendesah keras,

“Ouhh……” Baru beberapa senti kira-kira seperempat bagian yang keluar Johan mendorong pinggulnya lagi, sangat perlahan..! hingga mentok, rasanya hangat, masih ada sedikit rasa tebal dan nyilu…!!

Johan menarik kembali lagi beberapa saat hingga berulang- ulang, Gerakan Johan semakin cepat,

“Uu…auuu… ugh.. ugh…” Winda mendesah dengan cepat. Meski tanpa ada gerakan berarti dari tubuh wanita muda bertubuh indah itu karena sudah merasa capai dan otot pinggulnya serasa kaku, ia sangat menikmati persetubuhan ini. Winda menjadi agak malu karena saat Johan bergerak memacu pinggulnya itu terdengar ada kecipak bunyi - bunyian pada pertemuan kedua selangkangan mereka yang telah basah oleh keringat. Hingga sekarang Winda masih merasa malu pada dirinya sendiri apabila mengingat itu.

Beberapa saat kemudian Winda mengerang keras dengan serak, matanya terpejam dan meledak…, tubuhnya menegang kejang.., melentingkan punggungnya keatas bak ulat tertusuk duri, menjepit ketat pinggul Johan dengan kedua kakinya yang saling berkait di belakang Bagian dalam kewanitannya kembali berkedut-kedut. Jiwanya serasa ringan, terbang melayang… lalu terkulai.. capai..

“Oh… ahhhhhh… addduhh… ‘duhh”

Johan masih terus bergerak, menghujamkan batang tegangnya pada kelembutan basah kewanitaan Winda tak berhenti… malah semakin cepat..!!! Winda sudah sangat lemah saat itu, hanya terlentang, terkangkang pasrah. Kedua tangannya tergolek tidak berdaya memegang apapun. Hanya suara kecipak pertemuan kelamin mereka saja dan nafas Johan yang memburu riuh terdengar dalam ruangan itu. Tidak lama kemudian Johan dengan cepat menyusul. Seraya menggeram ia menyentakan pinggulnya ke bawah dengan kuat membuat pinggul wanita muda itu terbenam dalam kelembutan ranjang, menyemburkan cairan kental yang hangat miliknya di dalam kewanitaan Winda. Dan iapun rebah lagi diatas tubuh wanita bertubuh sintal itu beberapa saat, lalu menggelosoh ke samping Winda..

Jam 2 malam itu juga Winda meminta di antar kembali ke kamarnya namun Johan memaksanya tidur di situ.

“Da… Winda.. ka kamar malam iko yo (bang Winda..kekamar malam ini ya..),
“Beko Uni uda pulang baa pulo? Bisa gawat da (nanti kakak abang pulang gimana? bisa gawat bang..)”.kata Winda tetap ngotot. Winda takut jika tiba-tiba kakaknya pulang sedangkan Winda berada di dalam kamar adiknya.
“ Kan Winda masiah latiah, disiko sajo lah. Uni pulangnyo indak mungkin malam ‘ko (kan Winda masih letih, disini sajalah, kakakku pulangnya ‘gak mungkin malam ini koq)”, sahut Johan.
“Winda indak namuah lalok disiko, kalau di caliak urang lain tantang awak apo pulo katonyo beko (Winda tidak mau tidur disini, nanti jika dilihat orang lain tentang kita bagaimana)?”, kata Winda menerangkan.

Dengan berat hati dan malas-malasan Winda melangkah diantar Johan ke kamarnya, meski tidak terlalu jauh. Dan untungnya jalan menuju kamarnya lampunya tidak ada sehingga tidak akan ada orang yang tau. Saat sampai di pintu paviliunnyanya. Winda masuk tetapi dengan nakal tangan Johan masih sempat meraih dada membusung Winda yang langsung menepisnya. Saking lelahnya Winda tidak teliti sehingga penutup segitiga pakaian dalamnya masih tertinggal di kamar Johan. Winda berbisik pada Johan,

“Da, sarawa Winda lupo..., (bang pakaian dalam Winda lupa di pakai)”dengan tersenyum Johan berkata,
“Bisuak lah uda anta-an, maleh bulak baliak (besok abang antarkan, malas bolak balik). Begitu tau Winda tidak mengenakan pakaian dalamnya, tangan Johan lansung meraih ke bawah, berusaha meraba kewanitaannya yang tertutup pakaian tidur.
“ Malu ‘da, iko kan dilua (malu ini kan diluar bang..)”, kata Winda

Winda kemudian mencuci muka dan berbaring. Langsung ia tertidur karena kelelahan yang amat sangat akibat persetubuhan tadi. Dan esok nya kembali bekerja seperti biasa. Winda juga sudah lupa pakaian dalamnya yang tertinggal di kamar Johan. Setelah dia mengatakan akan menyimpannya di tempat yang aman. Winda tidak kuatir lagi…
Readmore

Balada Rita Bispak SMU Yang Binal dan Nakal

Jam istirahat, toilet siswi SMA Negeri ** Jakarta.

Di depan salah satu toilet siswi, Rita dan salah satu siswa sebut saja Joni, sedang sibuk melakukan transaksi.

“Yaudah cepet, jadi gak sih?” Tanya Rita kesal
“Jadi.. tapi masa di toilet sih Rit?”
“Yaelah paling bentar juga keluar lo..Udah buruan.. dikit lagi bel masuk”
“Iya.. iya..” jawab Joni

Setelah memastikan keadaan sudah aman, mereka berdua masuk ke dalam salah satu toilet perempuan.

“Kok toilet cewek? Mampus gue kalo ketauan.”
“Udah bawel ah, kaya cewek aja..” Ujar Rita sambil sibuk melorotkan celana dalam, di balik rok seragam-nya.
“Galak banget sih lo..” Jawab Joni, juga mulai membuka celana seragam-nya
“Duit-nya ada kan?”
“Ada.. nih..” Jawab Joni, sambil mengeluarkan lipatan uang seratus ribu dari kantong-nya.

Begitulah sisi lain kehidupan Rita. Tuntutan dunia modern membuat-nya harus melakukan hal ter sebut, demi mencukupi biaya pergaulan, yang tidak mungkin dibeli dengan sisa uang jajan-nya. Sudah menjadi rahasia umum di kalangan plajar pria, mengenai kebisyar-an Rita.
Namun tetap saja hanya golongan tertentu yang mampu mengunakan jasa Rita, yang terbilang mahal.

“Rit.. buka dong..” Protes Joni.
“Udah gini aja.. udah cepet mepet nih..”
“Mana bisa ngaceng gue..” Jawab Joni kesal.

Rita pun mulai berjongkok dan mengocok penis Joni, yang masih mengkerut di antara bulu kemaluan-nya.

“Awh…Enak Rit.. tapi kurang..”
“Aduh rewel ah.. gerepe toket gue” Perintah Rita, sambil mengarahkan tangan Joni ke payudara kecil-nya.

Setelah meremas payudara Rita dari luar seragam-nya. Perlahan-lahan penis Joni mulai mengeras di kocokan Rita. Melihat penis Joni yang sudah mengeras, Rita pun bangkit dan menungging di depan Joni.

“Masukin cepet, tinggal 4 menit lagi nih”

Joni pun mulai menggenjot penis-nya di lubang vagina Rita yang sempit dan basah. Kedua tangan Joni pun sibuk meremas payu dara Rita. Sedangkan Rita hanya menerima sodokan penis Joni dengan pasrah, sambil kedua tangan-nya menahan berat tubuh-nya, di bak mandi

“Ah…Rit… Enak banget memek lo..” Ucap Joni penuh nafsu.
“Iya sayang..owh.. Terus sodokin titit kamu…ungh.” Balas Rita, agar Joni cepat mencapai orgasmenya.

Rita bukan-lah wanita yang mudah di landa birahi, ucapan-ucapan nakal yang sering ia lontarkan saat melakukan hubungan intim, hanya lah pancingan agar si laki-laki cepat mencapai orgasme-nya.

“Rit… gue mau keluar….”

Dengan cepat Rita menarik pinggulnya, dan mengocok penis Joni hingga sperma joni muncrat membasahi lantai toilet. Setelah melihat Joni masih menikmati orgasmenya, Rita pun membersihkan vagina-nya dan kembali merapihkan seragam sekolah-nya

“Udah sayang?.. Makasih yah.. Muaah”

Rita pun pergi dengan santai, meninggal kan Joni yang masih lemas di dalam toilet. Lalu kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar . Karena kebetulan siang itu adalah pelajaran olah raga, maka seluruh murid kelas sedang bersiap mengganti seragam mereka dengan seragam olah raga. Karena kelas sudah dipakai oleh siswa laki-laki maka para siswi perempuan, memilih berganti pakaian di toilet.

Saat Rita berjalan dengan sahabat sebangkunya, yaitu Fika. Tiba-tiba ia berpapasan dengan Joni yang sepertinya baru bisa terbebas dari toilet.

“Fik… lo duluan aja.. gue ada urusan bentar..” Ujar Rita
“Eh..I..iya Rit” Jawab Fika singkat.
“Semangat dikit kenapa Fik.. Kebanyakan bengong hamil lo lama-lama” Ucap Rita asal.
“Ngaco..” JawabFika sambil berlalu pergi.

Setelah melihat Fika menjauh, Rita pun kembali melancarkan niat usil-nya.

“Woii… lemes banget lo” Tegur Rita sambil menepuk pundak Joni.
“Ah..Tai lo… ninggalin gue gitu aja..” Omel Joni
“Hahahaha… Mampus” Jawab Rita dan kembali menyusul Fika.

Sesampainya di kamar mandi, Rita dan Fika mulai berganti pakaian olah raga bersama di dalam toilet.

“Wuuiihh Fik… toket lo gede banget…” Ledek Rita
“Ah.. Apaan sih lo..” Balas Fika galak
“Ah.. Andai punya gue segede lo yah.. pasti Gilang bisa gue dapetin” Gumam Rita
“Hah…? Gilang?? Siapa??” Tanya Fika bingung.
“Dasar bego.. Itu temen sekelas kita yang duduk di pojok kelas”
“Oh..” Jawab Fika asal
“Parah, Makanya jangan kebanyakan bengong.. Temen sekelas sendiri aja gak kenal” Omel Rita.
“Gitu yah Rit.. Gue gak begitu meratiin..” Jawab Fika polos.
“Aghh.. Cape gue ngomong sama robot.. yaudah geseran Fik gue mau ganti baju”

Kedua sahabat itu pun berganti pakaian, lalu berjalan ke lapangan olah raga. Dari kejauhan mereka dapat melihat Pak Petrus sedang berdiri menunggu para muridnya. Yah, Pak Petrus adalah guru olahraga kelas Rita. Dengan tubuh gempal dan kepala botaknya, mungkin jauh dari kata ideal sebagai guru pelajaran olahraga. Apalagi gossip miring yang sering terdengar akan kegenitan Pak Petrus, terhadap murid-murid wanita.

“Baik, kalian boleh pemanasan dulu. Rita kamu ikut bapak ambil matras di gudang..” Ucap Pak Petrus kepada murid-muridnya.
“Sendiri Pak? Berat… Fik anterin gue dong” Tanya Rita keberatan, dan mencoba mengajak Fika.
“Bo..boleh” Jawab Fika.
“Sudah sendiri aja.. Oh iya Fika kamu kesini sebentar” Perintah Pak Petrus galak

Fika pun berjalan menghampiri Pak Petrus. Tubuh Fika yang sintal sungguh membuat Rita iri, apalagi baju olahraga Fika yang terlihat sempit. Semakin memperlihatkan lekuk tubuh Fika.

“Fika… Kamu sudah bisa gerakan kayang??” Tanya Pak Petrus
“Su..Sudah Pak.. kenapa?” Jawab Fika sedikit takut.
“Bagus, nanti kita mau ambil nilai senam lantai. Kamu pemanasan dulu nanti pundak kamu keram” Ujar Pak Petrus sambil mengelus pundak Fika.
“Dasar cabul…” Gumam Rita sebal, karena mengerti niat bulus Pak Petrus.

Setelah puas bergerilya di tubuh Fika yang polos, Pak Petrus pun mengajak Rita ke gudang sekolah yang tak jauh dari lapangan olah raga, untuk mengambil matras senam lantai. Sesampai-nya di gudang Pak Petrus pun kembali mengunci gudang tersebut dari dalam.

“Pak kok dikunci?” Protes Rita.
“Nih… Saya lagi pengen..” Jawab Pak Petrus, sambil menyodorkan lipatan uang lima puluh ribuan.
“Aduh Pak… Nanti kalau yang lain curiga gimana?” ujar Rita ragu.

Dengan cepat tangan Pak Petrus yang kasar mencubit bibir vagina Rita, dari luar celana olah raganya.

“Pokonya saya mau sekarang” Bentak Pak Petrus galak.
“Aw… Aw… iya..iya ..aw lepas pak sakit..” Jerit Rita mencoba melepaskan cubitan tangan Pak Petrus dari bibir vaginanya.
“Buka baju kamu..” Perintah Pak Petrus, sambil melepaskan cubitan-nya
“Gak udah buka semua deh yah?? Aduh… Sakit Pak..Aduh..” Mohon Rita memelas, sambil mengusap-usap vaginanya dari luar celana.
“Buka… semua bapak mau liat kamu bugil..” Jawab Pak Petrus tanpa kompromi.
“Iya tapi tambahin jangan segini..” Ujar Rita sambil menghitung uang pemberian Pak Petrus

Melihat Rita yang terus menawar, Pak Petrus pun kesal dan meremas kedua payudara kecil Rita dengan sekuat tenaga. Membuat Rita tertunduk sambil meringis kesakitan.

“Saaa….saaakittt… Pak….iya..iya!” Jerit Rita.
“Iya apa?” Tanya Pak Petrus terus meremas kedua payudara Rita.
“AAawwww… Iya.. Iya…Aaa..ampuunn… Saaakit Pak ! Jerit Rita sambil menggeliat kesakitan

Tubuh langsing Rita terus berguncang-guncang menahan sakit di kedua payudara-nya. Dengan tangan-nya ia berusaha menarik remasan tangan Pak Petrus. Namun percuma tenaga Pak Petrus lebih kuat, Ditambah rasa sakit akibat setiap penolakan-nya membuat payudara-nya malah tertarik oleh tangan Pak Petrus. Tampak mata Rita mulai berkaca-kaca, karena tak kuasa menahan sakit di kedua payudara-nya.

“Iya apa Rita jawab?” Tanya Pak Petrus terus menguatkan remasan tangan-nya.
“Saaaa…sakiiiiiitt… Pak Udah…udah...ampuuunnn!” rengek Rita memohon
“Jawab…”
“Iya…iya saya mau bugil… Aw.. lepas pak..lelapas toket Rita sakiiit…”

Pak Petrus pun melepaskan remasan-nya, membuat tubuh Rita ambruk terduduk di lantai gudang yang penuh debu. Kedua tangan-nya berusaha mengelus payudara-nya, mengharapkan bekas rasa sakit itu cepat lenyap. Wajah angkuh Rita tertunduk sambil tetesan air mata mulai jatuh di pipinya. Rambut panjang-nya kini juga menjadi berantakan akibat rontaan-nya tadi.

“Buka Rita sayang….emmpph” Perintah Pak Petrus

Melihat Rita yang masih meringgkuk kesakitan, membuat Pak Petrus kian bernafsu. Di cengkram-nya rahang Rita, lalu dilumat-nya kasar bibir mungil Rita. Rita Pun menurut, sambil membiarkan Pak Petrus mencumbu bibir-nya. Rita bangkit dan mulai membuka celana beserta celan dalam-nya. Kini vagina Rita dengan bulu yang menggaris tercukur rapih, terpampang bebas.

Setelah bagian bawah tubuh Rita telanjang, Pak Petrus pun melepas bibir Rita untuk membiarkan Rita, melepas kaos seragam olahraga-nya. Perlahan-lahan Rita pun menaikkan seragam-nya. Seolah tidak membiarkan vagina Rita menganggur, dengan cepat tangan kasar Pak Petrus kembali meremas kasar bibir vagina Rita. Membuat Rita kembali meronta-ronta menahan sakit, kaos sergam-nya pun ikut tersangkut di kepalanya.

Dengan susah payah akhirnya Rita dapat membuka kaos olahraganya. Dengan kasar Pak Petrus pun membalikan tibu langsing Rita, Dan mulai menusukan penis gemuk-nya di vagina Rita yang masih kering. Hingga Rita harus menggigit bibir bawah-nya untuk menahan sakit, saat penis gemuk Pak Petrus bergesekan dengan vagina-nya yang masih kering..

“AW… Pak.. pelan pelan Aw… Sakiit” Jerit Rita
“Udah gak usah bawel, Saya kan sudah bayar.” Jawab Pak Petrus

Melihat Rita yang terus meronta-ronta, kedua tangan Pak Petrus mulai menyibak BH Rita. Dengan gemas, tangan kasar Pak Petrus mulai memilin putting Rita dengan gemas. Cairan vagina Rita mulai membasahi penis Pak Petrus yang terus menyodok lubang sempit tersebut.

Setelah bosan dengan posisi tersebut, dengan kasar-nya Pak Petrus mendudukan Rita di sebuah meja kayu yang penuh dengan debu. Bongkahab pantat Rita yang membulat diantara pahanya yang kurus, kini telah dikotori debu-debu yang menempel.

“Rit… biar badan kamu kurus tapi memek kamu nikmat banget..” Ujar Pak Petrus penuh nafsu.
“Ayo… Pak cepet… awh.. Nanti yang lain curiga… uungghh” Desah Rita.

Merasakan penis gemuknya terus di jepit oleh vagina Rita yang sempit dan basah, Pak Petrus pun semakin bernafsu. Genjotan-nya semakin kasar dan cepat, membuat tubuh langsung Rita terhentak-hentak mengikuti irama sodokan Pak Petrus.

Kini bibir berkumis Pak Petrus mulai menghisap putting kecoklatan Rita. Membuat Rita semakin menggeliat, dan menatap dengan pasrah ke arah kepala botak Pak Petrus. Putting Rita yang mencuat, membuat Pak Petrus menjadi gemas. Sesekali Pak Petrus gigi berantakan Pak Petrus menggigit gemas, putting Rita. Membuat kepala Rita terdengak menahan nyeri di puttingnya.

“Awwwh.. Sa…sakit pak..pentil Rita…Aw.. jangan di gigit gitu..Aww” Jerit Rita mengiba.

Tak lama penis gemuk Pak Petrus, mulai berkedut di dalam vagina Rita. Dengan cepat Pak Petrus menarik penisnya dan menarik Rita agar berjongkok, di hadapan-nya. Dengan kasar Pak Petrus memaksa mulut mungil Rita untuk mengulum penis berbau apek tersebut. Dan “cerooott….croott..” Seperma Pak Petrus menyembur di mulut Rita.

“Telan… peju bapak.. “ Bentak Pak Petrus

Rita pun mencoba bertahan, namun Pak Petrus enggan mencabut penisnya dari mulut Rita, yang dipenuhi cairan seperma Pak Petrus. Kesal dengan tingkah Rita yang enggan menelan sepermanya, tangan kasar Pak Petrus langsung mencubit puttinga Rita dengan kasar.

“Awh…gluk…gluuk..” Rita pun meneguk habis sepetma di mulutnya.

Setelah memastikan Rita telah membersihkan sisia seperma di penisnya, Pak Petrus pun mencabut penisnya dari mulut Rita dan langsung menaikan lagi posisi celananya. Diikuti Rita yang juga sibuk memungut uang bayaran dan pakaian-nya yang tergeletak di lantai. Pantat sekal Rita terlihat berguncang, saat Rita berusaha membersihkan debu yang menempel di pantatnya.

“Pak.. Boleh saya minta rokok?... Gak enak banget nih masih kerasa pejunya” Ujar Rita sambil menjulurkan lidah mungilnya.
“Hahaha… nih.. Keretek tapi..” Jawab Pak Petrus, menyodorkan sebungkus rokok kretek beserta koreknya.

Rita pun mulai menyulut rokok tersebut, dikumurnya asap rokok kretak tersebut untuk menghilangkan aroma seperma yang pekat. Sementara itu, Pak Petrus sibuk mengangkat gulungan matras biru dan berjalan kearah pintu gudang.

“Jangan lama-lama, Bapak duluan.. Oh iya hati-hati nanti ketauan ngerokok bisa abis kamu” Ujar Pak Petrus, dan kemudian menghilang di balik pintu gudang.
“Iya jing.. Aduh sakit toket gua.. dasar Bangsat” Gumam Rita, sepeninggal Pak Petrus

Sambil menikmati rokok kretek di tangannya, Rita mengintip dari celah kerah kaos olahraganya, untuk melihat payudara kecilnya yang memerah dibalik BH. Kantong celana olahraganya pun terlihat penuh dengan uang bayaran Pak Petrus.

Setelah merasa tubuhnya pulih, Rita pun kembali menyusul teman-temannya ke lapangan olahraga. Seperti biasa pelajaran olah raga kali ini dipenuhi aksi mesum Pak Petrus. Setelah mengambil nilai siswa laki-laki, Pak Petrus betah berlama-lama mengajarkan senam lantai kepada para siswi.

Sepanjang pelajaran mata Pak Petrus terus jelalatan, menelanjangi rubuh setiap siswi dengan balutan seragam olahraga yang terbilang tipis. Tentu saja yang menjadi bulan-bulanan utamanya adalah Fika, yang memiliki badan paling sintal dan menggairahkan.

Berkali-kali Fika mencoba beberapa gerakan senam lantai yang terbilang sulit, sambil tangan Pak Petrus terus menggerayangi tubuh sintal tersebut, dengan berpura-pura membenarkan gerakan-nya. Begitupun dengan Rita, Pak Petrus dengan berani mencuri-curi untuk mencolek bagian selangkangan, dada, dan bahkan pantat Rita.

Setelah dua jam pelajaran penuh aksi mesum tersebut berlalu. Rita kembali mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah. Dilihatnya beberapa notification adanya pesan yang masuk.

"Rit gw tunggu di gerbang sekolah, sorry yah gue lagi pengen banget nih.. bokin gw lagi sibuk ngurusin padus sama Kak Sinta. Okeh?"

Dengan murung, Rita pun berjalan menghampiri Bobby yang sudah cengar-cengir menunggunya, di samping mobil Honda Civic Genio milik Bobby. Bobby yang merupakan sahabatnya sejak SMP belakangan ini, ikut-ikut memakai jasa tubuh Rita. Membuat Rita yang dulu pernah menaruh perasaan terhadap Bobby, menjadi merasa canggung untuk melayani nafsu bejat Bobby. Bobby adalah wakil ketua eskul basket SMA Rita, tentu saja perawakan Bobby tinggi dan besar, ditambah rambutnya yang selalu dicukur satu senti. Membuat Bobby terlihat menyeramkan dengan kulitnya yang kecoklatan. Walaupun begitu Bobby memiliki wajah yang cukup tampan dan terlihat bersih terawatt khas orang kaya.

“hay.. Rit.. Lemes banget lo?” Tanya Bobby
“Capek gue abis pelajaran si botak Petrus” Jawab Rita sambil masuk ke mobil Bobby.
“Waduh, tapi gak apa-apa kan gue minta temenin lo sekarang?” Hanya Bobby merasa tidak enak dengan sahabat lamanya tersebut.
“Lo megang duitnya kan?..” Tanya Rita datar
“Ada, nanti kita mampir ATM…” Jawab Bobby, sambil menyalakan mobilnya
“Yaudah.. jalan mau dimana?”
“Dirumah gue aja yah… bonyok kan kerja” Jawab Bobby bersemangat.
“Yaudah jalan deh..” Perintah Rita sewot.

Mobil Civic Genio berwarna hitam tersebut-pun mulai meluncur keluar gerbang sekolah.
Readmore

Menikmati Pantat Seksi ABG Calon Bintang Porno

Cerita Dewasa yang berjudul "Menikmati Pantat Seksi Abg Calon Bintang Porno" ini merupakan kelanjutan dari kisah sebelumnya, yaitu, "Permainan Ranjang Yang Panas Dengan Natalie Teman Kerja". Selamat membaca...

"Clar udah jalan. Have fun. Treat my girl nice okay?" Aku tersenyum membaca pesan singkat dari Natalie. Kulihat jam di dinding, sudah menunjukkan pukul 8.49 malam. Sekitar sepuluh menit lagi kencanku malam ini akan datang.

Bekerja di Belanda tanpa ditemani Cherry, Vany, Ella, atau Grace tentunya membuatku gelisah, karena ada satu 'kebutuhan' yang tidak terpenuhi. Selama hampir sebulan ini, Natalie setia menemaniku. Ia tentunya adalah seorang pemandu wisata yang luar biasa karena Amsterdam adalah kota kelahirannya–Natalie tahu setiap restoran dan tempat hangout yang terbaik di kota ini–, tapi selain itu wanita ini juga sangat lihai di atas ranjang. Ia seperti kombinasi yang pas antara dada montok Vany dan pantat seksi Cherry, dipadu dengan wajah sangat cantik Grace. Aku tersenyum memikirkan betapa kecanduannya aku terhadap wanita-wanita semacam ini… Kemana pun aku pergi selalu aku tak dapat lepas dari mereka.

Sekitar sepuluh menit kemudian, tepat jam 9 malam, aku mendengar bunyi bel pintu suiteku. Kurapikan kemejaku, dan aku berjalan ke arah pintu, membukanya perlahan. Sesosok gadis sangat cantik berdiri di ambang pintu kamar suite ku. Jika tantenya tidak memberitahuku usianya terlebih dahulu, aku pasti akan menebak umurnya lebih tua... Tapi aku tahu gadis ini baru 17 tahun... Hanya sedikit lebih tua dari Ella, anak sulungku.

Tinggi menjulang kira-kira 178cm, dengan kulit yang berwarna putih kemerah-merahan--sedikit terlalu putih untuk ukuran orang Indonesia, hidung yang mancung, dan rambut panjang bergelombang yang burgundy gelap, bibirnya yang penuh dan seksi membentuk senyuman yang sangat manis. Saat aku melihat senyum itu, hatiku luluh. Hampir aku tidak tega melanjutkan malam ini. Senyumnya manis dan polos sekali, seolah anak ini tanpa dosa. Tiba-tiba, ia mengulurkan tangannya, membuyarkan lamunanku.

"Clarissa," ujarnya, memperkenalkan diri. Suaranya merdu, agak berat. Aku menyambut jemarinya yang lentik dan sangat lembut dan membalas senyumannya.

"Adit," kataku. Aku menarik lengannya dengan lembut untuk masuk ke dalam kamar suite ku. "Mari masuk..."

Clarissa berjalan masuk dengan anggun. Tubuhnya dibalut dengan dress berwarna merah pas badan, menunjukkan setiap lekuk tubuhnya yang sangat langsing. Dadanya bulat dan cukup besar--kira-kira 34D menurutku--tapi tidak berlebihan. Saat ia berjalan melewatiku, aku dapat mengagumi pantatnya yang montok dan penuh, menonjol cantik dari balik dressnya. Hanya satu kata untuk menggambarkan Clarissa: pas. Tidak berlebihan, tapi jelas tidak kurang sama sekali. Entah kenapa, jantungku berdebar-debar.

Clarissa duduk di sofa dan membuka sepatunya. Aku duduk di sebelahnya. Wangi sekali gadis ini... Parfum mahal. Yah... Sesuai memang dengan tarifnya.

"Mau minum apa Clar?" tanyaku. "Teh? Kopi? Liquor?"
"Hmm... I don't mind Whiskey kalo Om punya," jawabnya. Aku mengangguk dan beranjak ke bar, mengambil dua gelas kosong, menaruh beberapa es batu ke dalamnya, dan menuangkan whiskey terbaikku. Dalam hati aku membatin... "Gila.. Dia manggil gue Om!" Yah... Seumuran Ella sih... Dan aku teman tantenya... Sudah layak dan sepantasnya.

Kuangsurkan gelas itu ke Clarissa sambil kembali duduk di sebelahnya. Ia menyorongkannya untuk toast kecil, dan kami menyeruput sedikit whiskey. Clarissa tersenyum.

"So... Kamu sekolah di sini?" tanyaku memulai pembicaraan.
"Iya aku kuliah. Kebetulan ada Mami jadi bisa sekalian ikut tinggal di sini" ceritanya dengan renyah. Aku tersenyum. Cara Clarissa berbicara pun mirip dengan Natalie… Tunggu.

“Mami?”
“Iya… Lho, Mami ga kasih tau?”
“Kasih tau apa?” tanyaku semakin bingung.
“Kalau aku anaknya Mami… Mami Natalie kan yang teman Om?” jawab Clarissa polos.
“I… Iya. Natalie temanku.. Tapi dia ga bilang kalau kamu anaknya! Dia bilangnya kamu keponakannya!” ujarku.

Clarissa tertawa terbahak-bahak, tawanya renyah sekali.

“Hahaha… Yaampun… Mami ga enak kali kalo bilang aku anaknya…” katanya di sela-sela tawanya.
“Astaga… Ini sih aku yang jadi ga enak… Kenapa dia ga bilang sama aku!” dalam hati aku mengumpat temanku… Gila juga, dia menyodorkan anaknya sendiri untuk menemani pria lain!

“Hahaha… Jangan ga enak Om… Aku emang mau koq… Dan aku dengar Om adalah salah satu sutradara Adult Movies paling terkenal di Jepang… Dan aku emang pengen banget jadi pornstar… Ya siapa tau, Om…” jawab Clarissa lancar. Aku akhirnya terkekeh.

“Hehehe.. Belum pernah aku denger ada anak yg sesemangat kamu untuk masuk ke bisnis ini,” kataku. Clarissa tersenyum cantik lagi.

“Ya… Dari aku kecil ya aku taunya Mami kerja in this industry… And she cares for me a lot, so… Well.. I want to continue the tradition,” kata Clar lancar.

“Wah tapi aku harus ngomong sama Natalie sih… Dia ga pernah cerita dia punya anak lho… Dan anak secantik kamu,” kataku jujur. Pipi Clar merona.

“Hehe memang ga banyak orang yang tahu,” katanya. Sebuah pertanyaan timbul dalam hatiku.
“Um… Papimu?” tanyaku. Clarissa nyengir, tapi aku melihat ada yang berubah di matanya.
“Mmm… Mami ga pernah cerita banyak tentang Papi…” jawabnya, suaranya menjadi serius. “Yang aku tahu… Papi is an American… And he left my mom when she was pregnant, when she was my age… 17 years old. I think that was before she got to know you in Singapore? So.. Yea… I never met him.”
“Ah… Okay…,” sudah kuduga.


Clarissa menyeruput whisky nya sedikit lagi. Suara denting es batu dengan gelas kristal menggema di tengah keheningan tak nyaman yang memenuhi ruangan. Aku salah memilih topik pembicaraan, sepertinya.

“Mmm… Om… Mami… Udah ngomong tentang harganya?” tanya Clarissa. Aku terkejut ditanyai blak-blakan begitu.
“Oh.. Oh iya bener! Bentar ya Om transfer sekarang,” kataku tergesa. Kuambil smartphoneku dan kubuka aplikasi mobile banking dari bank ku di Belanda. Clarissa berdiri perlahan dari sofa.

“Sambil Om transfer… Aku siap-siap dulu ya…” katanya merdu. Aku suka sekali suaranya.
“Silakan,” jawabku senang. Clarissa tersenyum cantik sekali dan berjalan perlahan ke kamar mandi. Dari belakang aku kembali mengagumi pantat gadis cantik ini… Benar-benar pas. Sangat pas.

Sambil mentransfer jumlah yang sudah disepakati ke rekening Clarissa, aku mengirimkan pesan singkat ke temanku yang sedang di Jerman.

Lu ga bilang dia anak lu! Dasar gila…

Aku nyengir sambil menantikan balasannya. Aku berjalan perlahan ke arah kamar tidur ruangan suite itu dan merebahkan diriku di ranjang, memejamkan mata. Aku tak tahu apa yang harus aku harapkan dari Clarissa… Penampilan fisiknya sangat sempurna… Tapi berpuluh tahun pengalaman mengajariku bahwa fisik saja tidak menjamin performa di atas ranjang.

Smartphone-ku bergetar, tanda balasan dari Natalie sudah masuk. Aku mengangkat gadget tipis itu.

“Ngantuk ya Om?”

Suara merdu Clarissa menggugahku dari lamunan. Aku membuka mata, dan langsung terbelalak melihat gadis ini. Kubuka mataku dan menatap pemilik suara merdu itu. Clarissa berdiri di ambang pintu kamar tidurku dengan mengenakan lingerie latex berwarna merah terang, sangat kontras dengan kulitnya yang seputih susu. Lingerie ini sangat ketat menutupi area-area vital dari tubuh indahnya, sangat tipis sehingga membuat putingnya menyembul dan belahan vaginanya terlihat dari balik kain, dan sangat terbuka hingga membuatku dapat melihat hampir seluruh tubuh gadis ini… Hanya puting dan vaginanya saja yang tertutup. Aku merasakan celanaku sangat menyempit.

“Oh my God, Clar… You’re an angel,” ujarku jujur. Clarissa kembali memberiku tawa mungil renyahnya itu. Ia bergerak perlahan, seksi sekali, menaiki ranjang dan merangkak ke arahku yang masih setengah berbaring.

“So… Kata Mami… Om… Cukup…” desahnya sambil membelai tonjolan di selangkanganku dengan jemarinya yang lentik “… Besar.”
“Well… Jangan percaya Mami…” jawabku setengah berbisik. Wajahnya yang cantik sudah sangat dekat dengan wajahku. “… Buktiin sendiri.”

Clar kembali tertawa kecil, dan perlahan, ia mendekatkan bibirnya yang penuh ke bibirku. Bibirnya menyentuh bibirku dengan lembut, dan kami berciuman, sangat perlahan, sangat menikmati. Sambil terus melumat bibirku, tangan kanan Clarissa dengan ahli membuka kancing dan retsleting celanaku, dan perlahan, ia merogoh ke dalam celana dalamku, mengeluarkan penisku yang sudah sangat tegang.

Perlahan, Clar melepaskan ciumannya. Ia menoleh ke bawah, melihat penisku yang ada di gengaman tangannya, dan aku melihat keterkejutan di matanya saat melihatnya.

“Wow… Om… Kayaknya kalo dalam hal ini aku perlu percaya Mami deh…” ujar Clar. Aku nyengir.

“Jadi Mami ga bohong ya,” kataku. Clar nyengir dan menggelengkan kepalanya.
“Ini… Besar banget sih…” desahnya. “… Berapa senti?”?“Tebak,” ujarku jahil.
Clar tertawa kecil, “Mmm… Ini sih… Tiga puluh?”
“Tiga satu,” jawabku. Mata Clar membelalak.

Aku tertawa dan menariknya lembut mendekatku, dan kami berciuman lagi; lebih ganas kali ini. Clar memasukkan lidahnya ke dalam mulutku, dan segera kubelit dengan lidahku. Tangan kanannya mengusap penisku dan mengocoknya sangat perlahan-lahan, dari pangkal ke kepala, dan sangat perlahan kembali lagi ke pangkal… Begitu terus. Belum pernah aku di handjob seperti ini!

Kami terus berciuman, semakin lama semakin panas, lidah kami saling membelit. Aku melepas ciuman. Clar perlahan menaikiku, meletakkan penisku di antara selangkangannya yang membuka lebar. Pahanya yang jenjang dan mulus menjepitku dengan lembut.

“You can touch me if you want…” godanya. Aku merasa penisku berdenyut setiap kali mendengar suaranya yang sangat merdu. Aku tersenyum dan perlahan mulai meletakkan tanganku di atas pahanya… Mulus sekali.

Tanganku bergerak perlahan ke belakang, menikmati bongkahan pantatnya yang bulat. Kuremas dengan kuat pantat Clarissa yang montok. Clar menggigit bibir bawahnya sambil tersenyum nakal, dan mulai perlahan-lahan membuka kancing kemejaku, dan dengan lembut, jemarinya yang lentik membelai dadaku.

Sembari tanganku naik dari pantat ke pinggang Clarissa yang sangat ramping, gadis ini mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur perlahan-lahan, seperti sedang menaiki kuda. Penisku merasakan sensasi gesekan yang sangat nikmat.

“Mmmhh… Clar…” desahku. Clarissa nyengir manis sekali, dan menundukkan tubuhnya, menciumi leherku dengan lembut, menjilatinya. Aku merasa seperti aliran listrik menjalar di seluruh tubuhku.

Aku kembali menggerakkan tanganku semakin ke atas, menuju gunung kembarnya yang sangat indah. Namun, belum sempat aku menyentuhnya, Clar meliuk, dan mengarahkan ciumannya semakin ke bawah perlahan-lahan. Dari leher, ke dada, ke perut, ke pinggang… Hingga akhirnya ia berhenti persis di atas penisku yang sudah tak sabar menunggu. Clar mengangkat matanya menatapku, seolah meminta izin.

“Go ahead… Send me to heaven,” kataku. Aku sudah tak sabar. Clar nyengir, dan dengan sangat lembut, ia memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Bibirnya yang tebal mengatup, membungkus sempurna penisku, dan mulai perlahan-lahan bergerak turun hingga menyentuh pangkalnya. Aku tak dapat melukiskan betapa enaknya blowjob ini dengan kata-kata.

Aku dapat merasakan kepala penisku menyentuh ujung belakang bagian dalam tenggorokan Clar. Aku tahu penisku masuk sudah memenuhi rongga mulutnya dan hampir seperempat leher gadis ini, tapi hebatnya, ia tidak tersedak sedikit pun. Sambil kebali menatapku, Clar mengangkat kepalanya perlahan-lahan, kembali bibir tebalnya ‘membelai’ penisku. Aku memejamkan mata menikmati.

“Ohh… Clar… Clarissa… Mmnhh…”

Clar mulai mempercepat gerakannya naik-turun. Lidahnya bermain di bagian bawah penisku. Blowjob yang sekelas ini hanya pernah aku rasakan dari satu orang: Grace, mantan pacarku. Tanganku membelai rambutnya yang merah tua. Aku tahu aku tak akan tahan lama dibeginikan terus.

“Mmhh… Clar… NnnnnAAAHH!”

Clar melepas sedotannya dan penisku menembakkan sperma berkali-kali ke wajah cantiknya. Clar memejamkan mata rapat-rapat sambil tersenyum, senyum yang membuat hidungnya berkerut, imut sekali. Saat aku selesai menembakkan spermaku, wajahnya sudah berlumuran putih. Clar nyengir manis, mengambil sisa-sisa cairan putih kental itu dengan jemari lentiknya, dan melumatnya semua dengan mulutnya sampai habis. Seksi sekali. Penisku masih tegang sekali, bahkan rasanya semakin tegang.

“Om… Koq masih tegang sih…?” tanyanya. Aku menangkap nada terkejut yang asli dari suaranya. Aku tertawa.
“Baru sekali sih ga ada apa-apanya, Clar… Yuk lanjut!”

Kubalikkan badannya hingga terlentang di ranjang, dan perlahan, kubuka lingerie merahnya. Dadanya yang indah terpampang di depanku; dadanya bulat dan montok, putih mulus, dengan puting yang cukup kecil berwarna merah muda. Vaginanya tercukur bersih, tidak ada bulu sedikit pun. Aku mengagumi keindahan tubuh gadis ini sambil tersenyum.

“Ayo Om… Koq diem aja sih…” desahnya menggoda.

Aku nyengir. Tak menunggu disuruh dua kali, aku menciumi leher Clarissa. Clar memejamkan mata, menikmati. Ciumanku turun ke dadanya yang montok. Tanganku sudah tak sabar meremas keduanya; perlahan kuremas dada gadis ini, tebal dan penuh rasanya. Aku menyadari satu hal: Kulit Clar sangatlah mulus; seperti menyentuh sutra rasanya.

“Mhh… Om…”

Kedua tanganku meremas dadanya semakin kencang. Jemariku memainkan putingnya yang mengeras, membuat Clar menggelinjang keenakan.

“Mmhh! Mnnhh… Oo…m!”
“Clar… Om sedot ya…”

Clar mengangguk. Mukanya mulai merona merah. Kusedot puting kirinya terlebih dahulu, lidahku memain-mainkannya di dalam mulutku. Clar menggigit bibir bawahnya. Rupaya payudara gadis ini sangat sensitif.

“Ngahh… Aa… Aahh… Omm… Oommm…”

Tangan kanan Clar mencengkeram rambutku sementara yang kiri menarik seprei kuat-kuat. Desahan nafasnya semakin berat. Aku menyedot putingnya dan meremas dadanya lebih kuat lagi. Clar tak tahan.

“Aaahh… AAHH… MNNHH!”

Tubuh Clar menegang beberapa detik, kemudian melemas. Orgasme pertamanya berakhir, membuat dirinya gemetar.

“Clar… Kamu baru dimainin toketnya aja udah orgasm gimana…?” godaku. Clar nyengir malu, mukanya merah padam.
“Mmhh… Gatau Om… Hhh… Hhh… Biasanya ga gitu… Barusan kenapa… Hhh… Enak banget tiba-tiba,” katanya sambil ngos-ngosan.
“Boleh lanjut?” aku meminta izin. Clar mengangguk kuat sambil tersenyum.

Aku meneruskan ciumanku turun semakin ke bawah; menikmati kelembutan kulitnya turun ke perutnya yang rata dan kencang, ke pangkal pahanya, dan akhirnya berhadapan dengan vaginanya yang pink dan tembem. Indah sekali.

“May I?”
“Sure… Sure Om… Please…”

Aku membenamkan wajahku di selangkangan Clarissa. Vaginanya sudah basah sekali berkat orgasme tadi, dan sekarang aku menjulurkan lidahku ke dalamnya, menjilati bagian dalam dinding vaginanya dengan bersemangat.

“Nnngg… Nhhhh… Aahh.. Aaaah! Omm… O… Ohhh…” Clar mendesah dan melenguh dengan nikmat. Seingatku, aku belum pernah mendengar desahan semerdu ini. Tubuh Clarissa mengejang lagi, dan sebentar kemudian aku merasakan wajahku tersiram cairan bening segar yang menyemprot dari dalam vagina gadis ini.

Aku mengangkat dan mengelap mukaku dengan selimut. Clar menatapku dengan matanya yang besar dan indah, yang sekarang terlihat sayu setelah dua kali orgasme. Aku tersenyum, bergerak ke atas tubuhnya, mendekatkan wajahku ke miliknya. Clar membelai wajahku, jemarinya yang lentik menelusuri jenggot tipis di pipi dan daguku.

“I love your smile,” bisikku sambil mengecup bibirnya. Clar memamerkan senyumnya yang cantik.
“Just my smile…?” desahnya menggoda. Aku mendengus.
“… Your everything…” kataku. Penisku menyenggol bibir vaginanya, sudah tak sabar.

“I’m yours, Om…” bisik gadis ini di telingaku. Tangannya menggenggam penisku, mengarahkannya ke dalam vaginanya. Kepala penisku menyentuh, kemudian menembus vaginanya perlahan. Vany memejamkan mata dan memelukku erat-erat.

Pelahan, aku merasakan penisku menerobos masuk ke dalam vaginanya; dinding vaginanya yang becek dan hangat membungkus penisku. Clar mengangakan mulutnya, seperti hendak mendesah keras atau mencari napas, tapi tak ada suara yang keluar. Aku terus menusuk ke dalam dengan perlahan, hingga akhirnya kepala penisku menyentuh mulut rahim Clarissa. Clar membelalakkan matanya. Seluruh tiga puluh satu sentimeter penisku telah memenuhi vaginanya.

“O… Omm… You fill… Me up…” katanya terbata. Aku mengecup bibirnya yang tebal. Aku menarik penisku sampai setengah keluar, kemudian dengan cepat dan sekuat tenaga menghujamkannya kembali ke dalam vagina Clar.
?“Mmnnhhh! Aaah! Aah! Omm… Oh…. Aaahh… Aaah… Mnhh!” desah Clar dengan kencang. Tangannya memeluk punggungku erat-erat.

“Om! Omm…! Nggh!” desahnya merdu. Aku mengecup, menjilati leher Clarissa yang jenjang. Clar menggelinjang, matanya terpejam, mulutnya menganga keenakan. Vagina Clar yang sangat hangat dan lembut seperti semakin lama semakin mengetat di sekeliling penisku. Enak sekali.

“Mmh… Clarr… Clar… So… Good…” kataku sambil terus menggenjotnya. Clar merapatkan kedua tungkainya ke kanan-kiri pinggangku. Tanganku meremas kedua buah dadanya yang mulus dan montok, memainkan putingnya dengan jemariku.

“Om…! Ahh.. Ahh… Aaaahh! Annhh…. OOM!” Clar menjerit. Aku merasakan penisku disiram cairan dingin. Clar baru saja orgasme lagi. Aku tak peduli, aku semakin mempercepat tusukanku. Vaginanya mengencang, menjepitku semakin erat. Aku tahu aku tak akan bertahan lama.

“Clarr… Clar… Clar… Mmmhh…. Om… Mau… Keluarr… Nnnhh… NNH!”

Aku meledakkan spermaku banyak-banyak ke dalam vagina gadis ini. Saat kutarik penisku lepas, cairan putih meleleh dari dalamnya. Wajah Clar merah padam, tubuh indahnya bersimbah keringat. Aku jelas belum puas.

“Oh my God… Oh… Omm… Hhhh….” Clar terbata-bata mencari napas. Kumiringkan tubuhnya yang agak lemas ke sisi kanan. Aku beranjak ke belakangnya. Tanpa disuruh, Clar mengangkat tungkai kirinya dan menahannya dengan tangannya, menyediakan ruang bagiku.

Aku menusukkan lagi penisku ke dalam vaginanya. Basah sekali sekarang. Tanpa aba-aba, aku langsung menggenjot gadis ini. Tangan Clar mencengkeram seprei, menikmati. Kuremas-remas dadanya yang montok sambil menciumi lehernya yang jenjang.

“Aaaahh… Annhh… Mmnhh…. Mhhh! Mhhhh!”

Aku merasa penisku bahkan lebih mengeras lagi setiap kali mendengar Clar mendesah. Entah kenapa, suaranya seperti menyihirku. Indah dan merdu sekali. Jemariku memainkan putingnya, mencubitnya dan memutar-mutarnya perlahan. Clar sepertinya tidak tahan.

“Mmhhh… Mmhh… Omm… Oommmm…. Oommmm!”

Cairan dingin putih kembali menyembur dari dalam vaginanya, kali ini lebih kencang sampai penisku terlepas. Clar terkulai lemas di ranjang. Tapi aku belum puas. Tenagaku sudah tidak sekuat dulu waktu remaja, tapi aku tahu aku masih bisa sekali lagi.

Kubelai paha Clar yang sangat mulus dari bawah ke atas, dan meremas pantatnya yang montok. Clar sepertinya mengerti apa yang aku inginkan, tapi tidak berani mengatakannya. Wajahnya meronah merah, kali ini karena malu. Aku nyengir. Sepertinya harus basa-basi dulu supaya dia tenang.

“Kamu… Kapan pertama kali ML?”
“Umur 13, Om…” jawabnya. Aku tersenyum.
“Kamu dari umur 13 udah cantik gini?” godaku. Clar tersenyum malu. Pipinya menjadi semakin merona.
“Nanti minta Mami aja foto-foto pas aku kecil,” katanya. Aku terbahak, lalu aku langsung masuk ke topik utama.
“Kalo… yang ini? Pertama kali kapan…?” tanyaku, sambil perlahan membelai pantatnya. Sekarang muka Clar merah padam. Aku sudah tahu jawabannya.

“Mmm… …. Belum pernah… Om…” katanya malu-malu.
“… Mau?” tanyaku. Clar terlihat ragu-ragu. Kupeluk gadis ini dengan lembut. Entah mengapa aku menyayanginya lebih dari sekedar teman seks, tapi seperti anakku sendiri.

Clar terdiam, kemudian tersenyum. Tiba-tiba aku melihat ada kilatan jahil di matanya.
“… Mmm… Mau deh,” katanya manja sambil menjulurkan lidah. “Tapi… Ada satu syarat!”
“Apa?” tanyaku.
“… Aku boleh manggil Om… Papi!” ujarnya. Aku terbelalak.
“Hah? Koq Papi?” tanyaku, benar-benar terkejut.
“Hahaha… Yaa… Aku dari kecil ga pernah kenal Papiku… Dan selama ini cowo-cowo yang aku kenal kebanyakan cuma deketin aku karena aku cantik, atau karena badanku bagus… Atau cuma sebatas clientku aja,” jelasnya panjang-lebar.
“Loh… Aku juga kan kenalan kamu as a… A client?”

“I know… … No, I don’t know…” katanya, bingung. Kemudian Clar tertawa renyah.
“Gatau… Aku kayak… Sejak Om buka pintu tadi, aku bisa ngerasain sayang yang beda, yang ga cuma nafsu,” lanjutnya.

Aku terdiam. Bagaimana ia bisa membaca pikiranku?

Clar mengecup pipiku, tangannya membelai wajahku. Aku menatap matanya yang indah, dan senyumnya yang menyihir.

“Jadi… Boleh ga… Papi?” bisiknya dengan suara merdunya.
“How can I say no…” kataku, menyerah. “Tapi minta ijin Mami dulu ya!”
Clar terbahak, mengangguk. Kami berciuman, lembut dan lama. Lidah kami saling membelit.

Clar membalikkan badannya, nungging di atas ranjang. Aku menyiapkan diriku di belakangnya, dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya yang basah. Clar menoleh, bingung.

“Biar licin dulu, Clar…” jelasku. Clar tersenyum paham.

Setelah beberapa kali melumasi penisku dengan cairan vaginanya, aku melepas penisku dan mengarahkannya ke anus Clar. Perlahan, kugosokkan dulu batang penisku di belahan pantatnya yang montok, membiasakan pantat Clar dengan sensasi ini. Clar memejamka mata menikmati.

Perlahan, kedua tanganku meremas bongkahan pantat Clar dan melebarkannya. Dengan sangat pelan, ku tusukkan kepala penisku ke anusnya.

“Relax ya, Clar…” kataku menenangkannya. Clar mengangguk.

Kedua jempolku menarik anusnya semakin melebar. Kepala penisku masuk perlahan diikuti dengan sedikit demi sedikit batangnya. Clar menggelinjang, ia membenamkan mukanya di bantal, menahan sakit. Tapi gadis ini cenderung kalem, sehingga ia tidak mengencangkan anusnya dan membuatnya menjadi lebih menyakitkan. Clar tetap rileks, dan perlahan-lahan, penisku mulai mengisi anusnya sampai penuh.

Saat seluruh penisku sudah memasuki anusnya, Clar menoleh ke arahku, mukanya merah padam. Ini sempit sekali, dan bongkahan pantatnya yang montok membungkus penisku dengan nikmat.

“Ready?” tanyaku. Clar mengangguk, agak ragu-ragu.

Tanpa disuruh dua kali, aku menarik penisku dari anusnya sampai setengah panjangnya, dan menghujamkannya ke dalam sekuat tenaga. Clar membelalakkan mata, dan lenguhan panjang keluar dari mulutnya.

“Nnggggaaaaaahhhhhhh….! Oohh! Oh Papi! Paaa…. pppiiii!”

Aku menyerang pantat Clar kuat-kuat. Tanganku meremas, menampar pantat Clar dengan lembut. Clar kembali membenamkan wajahnya di bantal, suara jeritan dan desahannya teredam. Kedua jemarinya mencengkeram seprei kuat-kuat.

“Mhh… Mmhhh Clar… Clar ini… Enak… Banget… aahhh”

Kuangkat tubuh gadis ini hingga terduduk di posisi reverse-cowgirl, punggungnya bersandar di dadaku. Tanpa disuruh, Clar mengangkat pahanya dan menghujamkannya kembali ke atas penisku berkali-kali. Tanganku merogoh kedepan, kembali memainkan dadanya. Aku mengecup, menjilati lehernya.

“Ahhn.. Hahnnn.. Ahhnn…. Ahh.. Aaahh… Pa… Pii…” desah Clar tak karuan.

Aku melepas penisku dari dalam anusnya dan merebahkan diriku. Clar paham, langsung membalikkan badannya dan menaikiku. Tangannya sendiri yang membimbing penisku masuk ke dalam anusnya kembali. Aku meremas bongkahan pantat gadis ini sambil menghujam-hujamkan penisku dengan kuat. Sempit sekali, enak sekali.

“Mmmmhhh! Mhh… Papi… Papi… Mau…. Keluarr…. Mmhhh” desahnya.
“Bareng… Bar… Bareng ya…” ajakku. Clar mengangguk liar. Wajahnya merah padam. Keringat membasahi tubuh kami berdua. Klimaksku sudah dekat.

“Clar… Clar… Mmhhhhh!”
“Oohh… Papp…. Pappiiii!”

Aku meledakkan spermaku banyak-banyak di dalam anusnya, sementara Clar squirting kencang ke atas perutku. Aku terus menembakkan spermaku hingga penisku tercabut dari anusnya.

Clar roboh di atasku, terengah-engah. Kami terdiam beberapa lama, mengatur nafas. Kupeluk tubuh jenjang Clarissa. Aku merasakan cairan putih mengalir perlahan dari vagina dan anusnya. Aku memejamkan mata, menikmati tubuh kami yang saling menempel, merasakan nafas kami yang tersengal-sengal.

Aku menoleh, mencari wajah cantik Clarissa. Matanya terpejam, mulutnya sedikit menganga. Ia sudah tertidur!

Tersenyum, dengan sangat hati-hati aku membalikkan tubuh Clar hingga telentang di ranjang, dan menyelimutinya dengan lembut. Kukecup kening gadis ini sambil berbisik.

“I love you, Clar…”

Aku beringsut turun dari ranjang, ingin ke toilet untuk membersihkan diriku. Tapi lima jari lentik yang sangat mulus menyentuh pergelanganku dengan lembut. Aku menoleh, Clar membuka matanya sedikit, dan tersenyum sangat manis.

“I love you too, Papi… Don’t leave…” bisiknya lembut.

Aku nyengir. Hatiku sudah benar-benar luluh. Kembali kunaiki ranjang dan kurebahkan diriku di sebelah Clarissa, dan sekali lagi… Kami berciuman dengan lembut.
Readmore
Older Posts Ruang Dewasa | Booking Cewek Online
 

Copyright © 2016 Ruang Dewasa | Booking Cewek Online | Powered by Blogger