Ruang Iklan Disewakan

Balada Rita Bispak SMU Yang Binal dan Nakal

Jam istirahat, toilet siswi SMA Negeri ** Jakarta.

Di depan salah satu toilet siswi, Rita dan salah satu siswa sebut saja Joni, sedang sibuk melakukan transaksi.

“Yaudah cepet, jadi gak sih?” Tanya Rita kesal
“Jadi.. tapi masa di toilet sih Rit?”
“Yaelah paling bentar juga keluar lo..Udah buruan.. dikit lagi bel masuk”
“Iya.. iya..” jawab Joni

Setelah memastikan keadaan sudah aman, mereka berdua masuk ke dalam salah satu toilet perempuan.

“Kok toilet cewek? Mampus gue kalo ketauan.”
“Udah bawel ah, kaya cewek aja..” Ujar Rita sambil sibuk melorotkan celana dalam, di balik rok seragam-nya.
“Galak banget sih lo..” Jawab Joni, juga mulai membuka celana seragam-nya
“Duit-nya ada kan?”
“Ada.. nih..” Jawab Joni, sambil mengeluarkan lipatan uang seratus ribu dari kantong-nya.

Begitulah sisi lain kehidupan Rita. Tuntutan dunia modern membuat-nya harus melakukan hal ter sebut, demi mencukupi biaya pergaulan, yang tidak mungkin dibeli dengan sisa uang jajan-nya. Sudah menjadi rahasia umum di kalangan plajar pria, mengenai kebisyar-an Rita.
Namun tetap saja hanya golongan tertentu yang mampu mengunakan jasa Rita, yang terbilang mahal.

“Rit.. buka dong..” Protes Joni.
“Udah gini aja.. udah cepet mepet nih..”
“Mana bisa ngaceng gue..” Jawab Joni kesal.

Rita pun mulai berjongkok dan mengocok penis Joni, yang masih mengkerut di antara bulu kemaluan-nya.

“Awh…Enak Rit.. tapi kurang..”
“Aduh rewel ah.. gerepe toket gue” Perintah Rita, sambil mengarahkan tangan Joni ke payudara kecil-nya.

Setelah meremas payudara Rita dari luar seragam-nya. Perlahan-lahan penis Joni mulai mengeras di kocokan Rita. Melihat penis Joni yang sudah mengeras, Rita pun bangkit dan menungging di depan Joni.

“Masukin cepet, tinggal 4 menit lagi nih”

Joni pun mulai menggenjot penis-nya di lubang vagina Rita yang sempit dan basah. Kedua tangan Joni pun sibuk meremas payu dara Rita. Sedangkan Rita hanya menerima sodokan penis Joni dengan pasrah, sambil kedua tangan-nya menahan berat tubuh-nya, di bak mandi

“Ah…Rit… Enak banget memek lo..” Ucap Joni penuh nafsu.
“Iya sayang..owh.. Terus sodokin titit kamu…ungh.” Balas Rita, agar Joni cepat mencapai orgasmenya.

Rita bukan-lah wanita yang mudah di landa birahi, ucapan-ucapan nakal yang sering ia lontarkan saat melakukan hubungan intim, hanya lah pancingan agar si laki-laki cepat mencapai orgasme-nya.

“Rit… gue mau keluar….”

Dengan cepat Rita menarik pinggulnya, dan mengocok penis Joni hingga sperma joni muncrat membasahi lantai toilet. Setelah melihat Joni masih menikmati orgasmenya, Rita pun membersihkan vagina-nya dan kembali merapihkan seragam sekolah-nya

“Udah sayang?.. Makasih yah.. Muaah”

Rita pun pergi dengan santai, meninggal kan Joni yang masih lemas di dalam toilet. Lalu kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar . Karena kebetulan siang itu adalah pelajaran olah raga, maka seluruh murid kelas sedang bersiap mengganti seragam mereka dengan seragam olah raga. Karena kelas sudah dipakai oleh siswa laki-laki maka para siswi perempuan, memilih berganti pakaian di toilet.

Saat Rita berjalan dengan sahabat sebangkunya, yaitu Fika. Tiba-tiba ia berpapasan dengan Joni yang sepertinya baru bisa terbebas dari toilet.

“Fik… lo duluan aja.. gue ada urusan bentar..” Ujar Rita
“Eh..I..iya Rit” Jawab Fika singkat.
“Semangat dikit kenapa Fik.. Kebanyakan bengong hamil lo lama-lama” Ucap Rita asal.
“Ngaco..” JawabFika sambil berlalu pergi.

Setelah melihat Fika menjauh, Rita pun kembali melancarkan niat usil-nya.

“Woii… lemes banget lo” Tegur Rita sambil menepuk pundak Joni.
“Ah..Tai lo… ninggalin gue gitu aja..” Omel Joni
“Hahahaha… Mampus” Jawab Rita dan kembali menyusul Fika.

Sesampainya di kamar mandi, Rita dan Fika mulai berganti pakaian olah raga bersama di dalam toilet.

“Wuuiihh Fik… toket lo gede banget…” Ledek Rita
“Ah.. Apaan sih lo..” Balas Fika galak
“Ah.. Andai punya gue segede lo yah.. pasti Gilang bisa gue dapetin” Gumam Rita
“Hah…? Gilang?? Siapa??” Tanya Fika bingung.
“Dasar bego.. Itu temen sekelas kita yang duduk di pojok kelas”
“Oh..” Jawab Fika asal
“Parah, Makanya jangan kebanyakan bengong.. Temen sekelas sendiri aja gak kenal” Omel Rita.
“Gitu yah Rit.. Gue gak begitu meratiin..” Jawab Fika polos.
“Aghh.. Cape gue ngomong sama robot.. yaudah geseran Fik gue mau ganti baju”

Kedua sahabat itu pun berganti pakaian, lalu berjalan ke lapangan olah raga. Dari kejauhan mereka dapat melihat Pak Petrus sedang berdiri menunggu para muridnya. Yah, Pak Petrus adalah guru olahraga kelas Rita. Dengan tubuh gempal dan kepala botaknya, mungkin jauh dari kata ideal sebagai guru pelajaran olahraga. Apalagi gossip miring yang sering terdengar akan kegenitan Pak Petrus, terhadap murid-murid wanita.

“Baik, kalian boleh pemanasan dulu. Rita kamu ikut bapak ambil matras di gudang..” Ucap Pak Petrus kepada murid-muridnya.
“Sendiri Pak? Berat… Fik anterin gue dong” Tanya Rita keberatan, dan mencoba mengajak Fika.
“Bo..boleh” Jawab Fika.
“Sudah sendiri aja.. Oh iya Fika kamu kesini sebentar” Perintah Pak Petrus galak

Fika pun berjalan menghampiri Pak Petrus. Tubuh Fika yang sintal sungguh membuat Rita iri, apalagi baju olahraga Fika yang terlihat sempit. Semakin memperlihatkan lekuk tubuh Fika.

“Fika… Kamu sudah bisa gerakan kayang??” Tanya Pak Petrus
“Su..Sudah Pak.. kenapa?” Jawab Fika sedikit takut.
“Bagus, nanti kita mau ambil nilai senam lantai. Kamu pemanasan dulu nanti pundak kamu keram” Ujar Pak Petrus sambil mengelus pundak Fika.
“Dasar cabul…” Gumam Rita sebal, karena mengerti niat bulus Pak Petrus.

Setelah puas bergerilya di tubuh Fika yang polos, Pak Petrus pun mengajak Rita ke gudang sekolah yang tak jauh dari lapangan olah raga, untuk mengambil matras senam lantai. Sesampai-nya di gudang Pak Petrus pun kembali mengunci gudang tersebut dari dalam.

“Pak kok dikunci?” Protes Rita.
“Nih… Saya lagi pengen..” Jawab Pak Petrus, sambil menyodorkan lipatan uang lima puluh ribuan.
“Aduh Pak… Nanti kalau yang lain curiga gimana?” ujar Rita ragu.

Dengan cepat tangan Pak Petrus yang kasar mencubit bibir vagina Rita, dari luar celana olah raganya.

“Pokonya saya mau sekarang” Bentak Pak Petrus galak.
“Aw… Aw… iya..iya ..aw lepas pak sakit..” Jerit Rita mencoba melepaskan cubitan tangan Pak Petrus dari bibir vaginanya.
“Buka baju kamu..” Perintah Pak Petrus, sambil melepaskan cubitan-nya
“Gak udah buka semua deh yah?? Aduh… Sakit Pak..Aduh..” Mohon Rita memelas, sambil mengusap-usap vaginanya dari luar celana.
“Buka… semua bapak mau liat kamu bugil..” Jawab Pak Petrus tanpa kompromi.
“Iya tapi tambahin jangan segini..” Ujar Rita sambil menghitung uang pemberian Pak Petrus

Melihat Rita yang terus menawar, Pak Petrus pun kesal dan meremas kedua payudara kecil Rita dengan sekuat tenaga. Membuat Rita tertunduk sambil meringis kesakitan.

“Saaa….saaakittt… Pak….iya..iya!” Jerit Rita.
“Iya apa?” Tanya Pak Petrus terus meremas kedua payudara Rita.
“AAawwww… Iya.. Iya…Aaa..ampuunn… Saaakit Pak ! Jerit Rita sambil menggeliat kesakitan

Tubuh langsing Rita terus berguncang-guncang menahan sakit di kedua payudara-nya. Dengan tangan-nya ia berusaha menarik remasan tangan Pak Petrus. Namun percuma tenaga Pak Petrus lebih kuat, Ditambah rasa sakit akibat setiap penolakan-nya membuat payudara-nya malah tertarik oleh tangan Pak Petrus. Tampak mata Rita mulai berkaca-kaca, karena tak kuasa menahan sakit di kedua payudara-nya.

“Iya apa Rita jawab?” Tanya Pak Petrus terus menguatkan remasan tangan-nya.
“Saaaa…sakiiiiiitt… Pak Udah…udah...ampuuunnn!” rengek Rita memohon
“Jawab…”
“Iya…iya saya mau bugil… Aw.. lepas pak..lelapas toket Rita sakiiit…”

Pak Petrus pun melepaskan remasan-nya, membuat tubuh Rita ambruk terduduk di lantai gudang yang penuh debu. Kedua tangan-nya berusaha mengelus payudara-nya, mengharapkan bekas rasa sakit itu cepat lenyap. Wajah angkuh Rita tertunduk sambil tetesan air mata mulai jatuh di pipinya. Rambut panjang-nya kini juga menjadi berantakan akibat rontaan-nya tadi.

“Buka Rita sayang….emmpph” Perintah Pak Petrus

Melihat Rita yang masih meringgkuk kesakitan, membuat Pak Petrus kian bernafsu. Di cengkram-nya rahang Rita, lalu dilumat-nya kasar bibir mungil Rita. Rita Pun menurut, sambil membiarkan Pak Petrus mencumbu bibir-nya. Rita bangkit dan mulai membuka celana beserta celan dalam-nya. Kini vagina Rita dengan bulu yang menggaris tercukur rapih, terpampang bebas.

Setelah bagian bawah tubuh Rita telanjang, Pak Petrus pun melepas bibir Rita untuk membiarkan Rita, melepas kaos seragam olahraga-nya. Perlahan-lahan Rita pun menaikkan seragam-nya. Seolah tidak membiarkan vagina Rita menganggur, dengan cepat tangan kasar Pak Petrus kembali meremas kasar bibir vagina Rita. Membuat Rita kembali meronta-ronta menahan sakit, kaos sergam-nya pun ikut tersangkut di kepalanya.

Dengan susah payah akhirnya Rita dapat membuka kaos olahraganya. Dengan kasar Pak Petrus pun membalikan tibu langsing Rita, Dan mulai menusukan penis gemuk-nya di vagina Rita yang masih kering. Hingga Rita harus menggigit bibir bawah-nya untuk menahan sakit, saat penis gemuk Pak Petrus bergesekan dengan vagina-nya yang masih kering..

“AW… Pak.. pelan pelan Aw… Sakiit” Jerit Rita
“Udah gak usah bawel, Saya kan sudah bayar.” Jawab Pak Petrus

Melihat Rita yang terus meronta-ronta, kedua tangan Pak Petrus mulai menyibak BH Rita. Dengan gemas, tangan kasar Pak Petrus mulai memilin putting Rita dengan gemas. Cairan vagina Rita mulai membasahi penis Pak Petrus yang terus menyodok lubang sempit tersebut.

Setelah bosan dengan posisi tersebut, dengan kasar-nya Pak Petrus mendudukan Rita di sebuah meja kayu yang penuh dengan debu. Bongkahab pantat Rita yang membulat diantara pahanya yang kurus, kini telah dikotori debu-debu yang menempel.

“Rit… biar badan kamu kurus tapi memek kamu nikmat banget..” Ujar Pak Petrus penuh nafsu.
“Ayo… Pak cepet… awh.. Nanti yang lain curiga… uungghh” Desah Rita.

Merasakan penis gemuknya terus di jepit oleh vagina Rita yang sempit dan basah, Pak Petrus pun semakin bernafsu. Genjotan-nya semakin kasar dan cepat, membuat tubuh langsung Rita terhentak-hentak mengikuti irama sodokan Pak Petrus.

Kini bibir berkumis Pak Petrus mulai menghisap putting kecoklatan Rita. Membuat Rita semakin menggeliat, dan menatap dengan pasrah ke arah kepala botak Pak Petrus. Putting Rita yang mencuat, membuat Pak Petrus menjadi gemas. Sesekali Pak Petrus gigi berantakan Pak Petrus menggigit gemas, putting Rita. Membuat kepala Rita terdengak menahan nyeri di puttingnya.

“Awwwh.. Sa…sakit pak..pentil Rita…Aw.. jangan di gigit gitu..Aww” Jerit Rita mengiba.

Tak lama penis gemuk Pak Petrus, mulai berkedut di dalam vagina Rita. Dengan cepat Pak Petrus menarik penisnya dan menarik Rita agar berjongkok, di hadapan-nya. Dengan kasar Pak Petrus memaksa mulut mungil Rita untuk mengulum penis berbau apek tersebut. Dan “cerooott….croott..” Seperma Pak Petrus menyembur di mulut Rita.

“Telan… peju bapak.. “ Bentak Pak Petrus

Rita pun mencoba bertahan, namun Pak Petrus enggan mencabut penisnya dari mulut Rita, yang dipenuhi cairan seperma Pak Petrus. Kesal dengan tingkah Rita yang enggan menelan sepermanya, tangan kasar Pak Petrus langsung mencubit puttinga Rita dengan kasar.

“Awh…gluk…gluuk..” Rita pun meneguk habis sepetma di mulutnya.

Setelah memastikan Rita telah membersihkan sisia seperma di penisnya, Pak Petrus pun mencabut penisnya dari mulut Rita dan langsung menaikan lagi posisi celananya. Diikuti Rita yang juga sibuk memungut uang bayaran dan pakaian-nya yang tergeletak di lantai. Pantat sekal Rita terlihat berguncang, saat Rita berusaha membersihkan debu yang menempel di pantatnya.

“Pak.. Boleh saya minta rokok?... Gak enak banget nih masih kerasa pejunya” Ujar Rita sambil menjulurkan lidah mungilnya.
“Hahaha… nih.. Keretek tapi..” Jawab Pak Petrus, menyodorkan sebungkus rokok kretek beserta koreknya.

Rita pun mulai menyulut rokok tersebut, dikumurnya asap rokok kretak tersebut untuk menghilangkan aroma seperma yang pekat. Sementara itu, Pak Petrus sibuk mengangkat gulungan matras biru dan berjalan kearah pintu gudang.

“Jangan lama-lama, Bapak duluan.. Oh iya hati-hati nanti ketauan ngerokok bisa abis kamu” Ujar Pak Petrus, dan kemudian menghilang di balik pintu gudang.
“Iya jing.. Aduh sakit toket gua.. dasar Bangsat” Gumam Rita, sepeninggal Pak Petrus

Sambil menikmati rokok kretek di tangannya, Rita mengintip dari celah kerah kaos olahraganya, untuk melihat payudara kecilnya yang memerah dibalik BH. Kantong celana olahraganya pun terlihat penuh dengan uang bayaran Pak Petrus.

Setelah merasa tubuhnya pulih, Rita pun kembali menyusul teman-temannya ke lapangan olahraga. Seperti biasa pelajaran olah raga kali ini dipenuhi aksi mesum Pak Petrus. Setelah mengambil nilai siswa laki-laki, Pak Petrus betah berlama-lama mengajarkan senam lantai kepada para siswi.

Sepanjang pelajaran mata Pak Petrus terus jelalatan, menelanjangi rubuh setiap siswi dengan balutan seragam olahraga yang terbilang tipis. Tentu saja yang menjadi bulan-bulanan utamanya adalah Fika, yang memiliki badan paling sintal dan menggairahkan.

Berkali-kali Fika mencoba beberapa gerakan senam lantai yang terbilang sulit, sambil tangan Pak Petrus terus menggerayangi tubuh sintal tersebut, dengan berpura-pura membenarkan gerakan-nya. Begitupun dengan Rita, Pak Petrus dengan berani mencuri-curi untuk mencolek bagian selangkangan, dada, dan bahkan pantat Rita.

Setelah dua jam pelajaran penuh aksi mesum tersebut berlalu. Rita kembali mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah. Dilihatnya beberapa notification adanya pesan yang masuk.

"Rit gw tunggu di gerbang sekolah, sorry yah gue lagi pengen banget nih.. bokin gw lagi sibuk ngurusin padus sama Kak Sinta. Okeh?"

Dengan murung, Rita pun berjalan menghampiri Bobby yang sudah cengar-cengir menunggunya, di samping mobil Honda Civic Genio milik Bobby. Bobby yang merupakan sahabatnya sejak SMP belakangan ini, ikut-ikut memakai jasa tubuh Rita. Membuat Rita yang dulu pernah menaruh perasaan terhadap Bobby, menjadi merasa canggung untuk melayani nafsu bejat Bobby. Bobby adalah wakil ketua eskul basket SMA Rita, tentu saja perawakan Bobby tinggi dan besar, ditambah rambutnya yang selalu dicukur satu senti. Membuat Bobby terlihat menyeramkan dengan kulitnya yang kecoklatan. Walaupun begitu Bobby memiliki wajah yang cukup tampan dan terlihat bersih terawatt khas orang kaya.

“hay.. Rit.. Lemes banget lo?” Tanya Bobby
“Capek gue abis pelajaran si botak Petrus” Jawab Rita sambil masuk ke mobil Bobby.
“Waduh, tapi gak apa-apa kan gue minta temenin lo sekarang?” Hanya Bobby merasa tidak enak dengan sahabat lamanya tersebut.
“Lo megang duitnya kan?..” Tanya Rita datar
“Ada, nanti kita mampir ATM…” Jawab Bobby, sambil menyalakan mobilnya
“Yaudah.. jalan mau dimana?”
“Dirumah gue aja yah… bonyok kan kerja” Jawab Bobby bersemangat.
“Yaudah jalan deh..” Perintah Rita sewot.

Mobil Civic Genio berwarna hitam tersebut-pun mulai meluncur keluar gerbang sekolah.
Readmore

Guru Yang Terjebak Godaan Birahi Siswi SMU

Perkenalkan, namaku Iky, umurku baru 24 tahun dan belum menikah. Meski begitu, aku sudah bekerja, aku seorang guru yang sering melayani konsultasi para siswa di salah satu sekolah SMA swasta di kota kembang. Aku bekerja sudah dua tahun, dan karena masih muda dan wajah serta perawakanku cukup lumayan, aku disukai para siswi. Sering, para siswi sengaja cari-cari perhatian padaku. Kadang, mereka cari-cari alasan untuk konsul denganku, meski itu tak begitu penting. Tapi meski begitu aku melayaninya. Etika profesionalku, membuatku tak bisa menolak permintaan siswa.

Ruanganku ada di pojokan dibawah tangga dekat WC. Saat mata pelajaran berlangsung, jika tak ada siswa konsultasi, ruanganku begitu sepi. Sempat kesal juga kenapa aku ditempatkan di ruangan yang begini sepi, tapi untungnya dengan ini aku bebas melakukan apa saja. Ruanganku ini, bukan yang biasa dilalui para siswa maupun guru. Kecuali ada yang terpaksa ke WC dekat ruanganku yang gelap dan agak rusak, tapi masih bisa digunakan. Jika sedang diruangan, kadang aku bisa nonton bokep dengan suara sedikit keras tanpa takut ketahuan. Sesekali bahkan aku suka coli diruangan itu dengan bebas mendesah. Diruanganku memang selalu ada tisu, sengaja disediakan jika para siswa yang curhat menangis.

Tahun-tahun berlalu, aku melayani konsultasi siswa dengan biasa saja. Bosan, terutama tak ada satu siswi yang cantik dan menghibur masuk ruangan. Sehingga, saat sepi, aku coli dengan membayangkan guru Biologi seumuranku yang aku sukai, tapi sudah bersuami. Aku membayangkan bisa bersetubuh dengannya setiap hari. Guru ini sungguh menggoda, dan membuat fantasiku begitu liar. Kadang aku memperhatikan tubuh dan susunya yang menyembul. Ahhh... andai aku bisa menembus memeknya. Menyemburkan maniku di mulut rahimnya. Tapi tak mungkin sepertinya.

Tibalah aku mendapat siswa baru di tahun ajaran ini. Semua biasa-biasa saja, tak ada yang menarik kulihat. Namun, setelah beberapa bulan, aku melihat salah satu siswi berjilbab dan berkacamata, menarik perhatianku. Dialah Ayu, siswi cantik, putih, berkacamata, berjilbab, mukanya mungil seperti anak gadis kecil namun tingginya sepantaran denganku. Dulu aku tak menyadarinya, namun sekarang aku dibuatnya jatuh hati. Meski susunya tidak terlalu menonjol, bahkan agak keliatan rata, tapi mulut mungil dan wajah manisnya membuatku jatuh hati. Ahhh... namun begitu aku sadar siapa aku, aku mengurungkan niatku memacarinya. Namun, aku sering buka akun Instagramnya, melihat foto-foto manisnya, dan kadang aku tak tahan untuk coli melihat fotonya.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Suatu hari ketika aku membereskan beberapa dokumen di ruanganku, pintu ruanganku di ketok..

“tok..tok..tok... Assalamualaikum...”

“Buka aja, silahkan masuk..” teriakku.

“Bapak, lagi sibuk?” kata siswi itu. Aku terkejut bukan main, ternyata yang kali ini ke ruanganku adalah Ayu! Aku hanya melongo melihat Ayu di muka pintu. Aku lihat wajahnya yang begitu putih dan manis dihiasi kacamata berbingkai hitam tebal. Jilbabnya yang juga putih menambah kecantikannya. Seragam dan rok SMA nya, membuatku sangat bergairah. Gembiranya bukan main aku didatangi malaikat ini.

“Bapak?? Hey?? Kok ngelamun??” kata Ayu mengagetkanku.

“ehh.. ehmm,,Ayu.. ada apa yu? Eh,, ini bapak lg nyari sesuatu,,lupa naruhnya,,” kataku sekenanya, gelagapan karena bingung alasan apa yang aku pakai untuk menutupi kekagumanku pada pesonanya. “Silahkan masuk, duduk Yu.. sini..” ujarku kepada Ayu, diikutinya duduk didepan mejaku. Setelah kami duduk berhadapan terhalang meja, aku tanyakan maksud kedatangannya. “Mmh.. ada apa Ayu, bisa bapak bantu Ayu?” kataku dengan senyum seramah mungkin, dalam hatiku: “sini sayang aku entot memeknya..hhihi” .

“hehe.. sebelumnya makasih pak, Ayu pengen konsultasi nih pak..bapak ada waktu kan buat Ayu?” katanya.

“Oh tentu Yu, Ayu boleh cerita apa aja, mudah-mudahan bisa bantu.. tapi, ga usah panggil bapak ah.. panggil kakak aja Yu, kita kan masih seumuran..hehhee..” candaku, memecah kekakuan dan ini adalah teknik attending dalam konseling untuk ice breaking.

“iiihhhh,,,apaan, Ayu mah ga seumuran.. dasar ih,haha...tapi iya deh kaka..,,hehe.. kaka, aku teh pengen cerita..hmm,,,” Ayu membuka pembicaraan, memintaku untuk mendengarkan curhatannya tentang keluarganya yang broken. Ayu merasa begitu tidak tenang dengan kondisi rumahnya yang berantakan. “Ayu, ngerasa pengen bunuh diri aja, ka..udah ga nyaman banget di rumah tuh.. hiks..hiks..” air mata Ayu mulai bercucuran, aku lalu mengambilkan tisu mengusapkan ke matanya. Ia mengambil tisu, dan meneruskan bercerita tentang masalah yang dihadapinya. Sekarang, di rumah Ayu, ia hanya sendirian karena anak tunggal, orang tua sering sama-sama menghindar untuk bertemu dan memilih tak ada dirumah.

“Ibu Ayu nganggepnya ayah ada di rumah, Ayah Ayu juga sama, ngiranya Ibu ada dirumah, padahal keduanya tuh ga ada kak.. aku sendirian... huuu..hiks..hikss...” kali itu Ayu seperti menumpahkan kekesalan dan kesedihannya padaku. Aku memegang tangannya yang halus, memberikan nasihat secukupnya, menenangkan dan menguatkan hatinya. Kadang aku mengusap pundak dan kepalanya, dan sedikit mencandainya. Ayu tersenyum kembali, meski ia teruskan cerita sedihnya. Aku hanya berempati, dan pada waktu seperti ini, aku tahu.. Ayu hanya butuh didengar, bukan diberi masukkan. Karena itu aku menjadi pendengar setianya.

Sampai akhirnya, cerita Ayu berakhir dengan beberapa masukan solusi sederhana yang aku berikan. Ayu berterimakasih padaku, dan seperti senang telah meluapkan segala emosinya. “Makasih ya kak.. mudah-mudahan kaka ga bosen denger curhatan aku..” ujarnya sambil tersenyum. Kami saling memandang, saling tersenyum... ohh.. betapa cantiknya bidadari ini.. Aku sengaja memegang tangannya yang halus.. Kami masih saling memandang, “Kamu yang sabar aja ya Ayu... semua pasti bisa kamu lalui dengan baik..” kataku sambil tersenyum yang dibalasnya dengan senyuman yang tak kalah manis. Ah, saat itu aku dan Ayu seperti kekasih yang saling mencintai.

“Kalau nggak ada yang mau disampein, Ayu mending kembali ke kelas yah..” kataku.

“Oiya, Ayu boleh minta nomer hape kaka? Biar Ayu bisa cerita kapan aja,,” kami bertukar nomer handphone.

“Ya udah, sekarang Ayu kembali ke kelas ya..” kataku karena tak ada lagi yang ia mau sampaikan.

“Iya udah..” Ayu menjawab lemah, dan menunduk seolah kecewa.

Aku mengantarkannya menuju pintu keluar. Saat Ayu, hendak memegang daun pintu, Ayu malah berbalik, dan tiba-tiba memelukku! WOW! Bukan main aku kaget bercampur senang, tenang dan juga horny! “Makasih ya kak... tp aku belum mau masuk kelasss..” katanya didadaku, pelukannya malah semakin erat. Aku yang kaget sekaligus senang, mulai perlahan membalas pelukannya. Sialnya, kontolku malah berdiri dan aku yakin dirasakan pergerakannya oleh perut Ayu yang menempel erat denganku. Aku pura-pura mengelus kepala dan punggungnya. Mmmhhh...begitu hangat dan nyaman.

Saat, aku mengelus kepalanya yang tertutup jilbab, Ayu mengangkat kepalanya dan melihat ke wajahku. Entah setan apa yang menghinggapiku, aku malah mendekatkan bibirku ke bibir mungilnya. Perlahan, aku mendaratkan bibirku di bibir mungilnya. “Mmmmmhhhhh....” mata Ayu terpejam, namun bibirnya tak bergerak sedikitpun, dan akupun tak memagut bibirnya, hanya mencium bibirnya. Cukup lama bibir kami beradu, tanpa ada jilatan atau pagutan. Mata kami berdua terpejam menikmati gelombang cinta dan nafsu yang kian beradu. Nafas kami saling bersautan, sedikit lebih cepat.

Lalu aku tersadar, dan melepaskan bibir dan pelukanku. Ayu hanya melihatku dengan muka sayu, mata dibalik kacamatanya setengah terbuka, sayu dan malah itu membuatku semakin nafsu. Lalu Ayu mendekatiku, “Ka...mmhh” Ayu memelukku lagi, dan mendekatkan bibirnya dan matanya langsung terpejam. Karena nafsuku yang begitu tinggi, aku kembali mencium bibirnya dan kali ini aku memagutnya mengemut bibir atasnya, dan perlahan memasukkan lidahku ke mulutnya.

Bukan main kagetnya, ternyata Ayu yang cantik ini membalas, ia mengikuti pagutanku, mengemut bibirku, mengemut lidahku sesekali memasukkan lidahnya ke mulutku. “mmmhhh..Kaaa....mmmhhh....mmmuachhh mmmhhhh,,,kaa...mmmmhhh..” desahnya saat aku cium. Kontolku yang tegang di depan perut diatas ujung memeknya, tak sadar aku gesek-gesekkan.

“Mhhh...yu,,, mmmuachh.. mmmhh.. mmmuachhh mmhh...” aku menciumnya lebih ganas memeluknya erat, dan menyandarkan tubuh Ayu ditembok pinggir pintu. Aku semakin kuat menekan pantatku agar kontolku menempel memeknya. Lalu aku raih kunci pintu sambil tak lepas mencium Ayu, aku kunci pintu ruanganku.

Saat terdengar pintu aku kunci, Ayu menghentikan ciumannya, melihat ke pintu dengan kaget. Dia kira ada yang masuk, tapi ia lalu memandangku kembali, tersenyum padaku karena tau aku yang mengunci pintu. Kini kedua tangannya melingkari leherku, dan kembali menciumku. Tanganku yang memeluknya, turun ke pantatnya, menekan pantanya agak memeknya lebih erat menekan kontolku. “aahh.. mmmuaachhhh...Yu..aahhh...mmmhhh” saat aku menggesek kontolku yang sudah tegang ke memeknya yang terhalang celana kami.

Setelah lama kami berciuman, Ayu menghentikan ciumannya. Ia melihat wajahku yang sedang menggesekan kontol tepat depan memeknya. Aku emang sedikit berjongkok agar posisi kontolku pas di depan memeknya. Ayu melihat wajahku, tersenyum, dan kedipan matanya melambat. Saat terpejam matanya merapat menikmati gesekan kontolku. “Aach, Yu.. gapapa kan? Shhh ahh..” tanyaku saat menggesek memeknya. Ayu hanya tersenyum manis, dan mulai matanya terpejam kembali menikmati gesekanku.

Aku semakin bersemangat menggesek dan menekan kontolku di memeknya. Ayu hanya mengusap wajahku, dan mulutnya mulai terbuka sedikit. Lama-lama, suara Ayu mulai keluar, “aah.. kaka.. aahh.. shhhh ah...ka...” Ayu mendesah pelan saat aku gesekkan kontolku di memeknya.

“Ahh Ayu..kaka sayang kamu,,, mmmhhh ahhh..shhh ahhh..” aku terus menggesek memeknya dengan cepat. Kontolku terasa sakit karena masih terhalang celana, namun menggesek memeknya dengan cepat. Lalu, aku menghentikan gesekanku. Ayu, yang merem melek dan mendesah lalu melihat kearah kontolku dan memandangku sayu. Ayu melihatku heran karena aku menghentikan gesekanku.

“Kenapa ka?” tanya Ayu melihatku.

“Sakit Yu, kaka boleh buka celana kaka yah?” sambil aku membuka sabuk celanaku, membuka resleting, dan menurunkan celanaku dan celana dalamku sekalian ampe lutut. Kontan kontolku mengacung dengan kepalanya yang membesar dan menjadi pink karena sudah terangsang.

Ayu kaget melihat kontolku, tapi ia malah memegangnya sebentar, “Oh titit teh kaya gini ka.. gede yah..mmhh...” sambil mengelus dan kembali melingkarkan tangannya di leherku seperti siap untuk aku gesek kembali. Mukanya masih melihat ke arah penisku yang mengacung.

Aku mulai menepelkan penisku ke roknya, pas di memeknya. Namun, aku tak jadi menggesek, aku langsung mengangkat roknya dengan tangan kananku, lalu langsung menyelipkan tanganku ke celana dalamnya. Aku raba memeknya, aahh... begitu halus dan lembut! Jembutnya belum begitu banyak, belahannya rapat namun sudah basah, tanda iapun horny. “mmhh...kak.. shh enak kak.. elus lagi.. mmmhh...” desah Ayu saat aku meraba dan mengelus memeknya.

“Ayu udah basah ya? Mmhhh.. cangcutnya turunin ya Yu, bisi kotor..” kataku tanpa menunggu persetujuannya memelorotka celana dalamnya hingga lutut.

“Ahh..iya kak.. kaka mau apain Ayu? Mau kaya tadi lagi?” katanya memandangku sayu saat aku pelorotkan celana dalamya.

“Iya Yu, kaka pengen gesek tapi langsung ke memek Ayu, boleh kan?” ujarku sambil mengorek memek Ayu.

“Ahh.. kaka... shh iya kak.. aww..pelan ngorekinnya..” kata Ayu meringis saat aku mengorek bibir memeknya mencari lendir agak bisa kupakai melumasi kontolku.

“Kaka minta lendir Ayu yah, biar ga seret geseknya..” aku korek-korek belahan memeknya, mencari lendir yang keluar di memek Ayu.

“Ahh..iya kak.. cepet kaya tadi lagi kak...”desah Ayu tak sabar.

Sedikit lendir yang kudapat dari memeknya aku elus ke kontolku. Aku angkat kembali roknya sampai kelihatan memeknya yang ternyata putih dengan bulu halus yang tak banyak. Belahannya pink, basah karena ku gesek dan ku korek. Lalu aku mendekatkan kontolku ke memek Ayu. Aku tempatkan kontolku di belahan memeknya, aaahhhhh betapa hangat dan nikmatnya memek Ayu. “aahhh...kaka..shhh aku gemeteran..enak kak..mmhhh” kata Ayu saat aku tempelkan kontol di memeknya.

“hehe.. enak kan Yu, hmmmhh aaahhhhhhh...sshhhh aaahhhhh..hehehe.. ahhhhmmhh..” aku perlahan menggesekkan kontolku di memek lembut Ayu, sambil memandang mukanya yang keenakkan. Ayu tersenyum padaku disela merem meleknya. Akupun senyum puas bisa menempelkan kontolku di memeknya.

“ahhh...kaka.. shhh Ayu sayang kaka.. shhhh ahhh...enakkhhh ka,,terus..” Ayu mulai mendesah pelan saat kugesek belahan memeknya. Kepala kontolku menekan itilnya yang sedikit agak keras. “ahh kaka.. sshh..agak teken lagi..shhh ahhh...” ceracau Ayu saat menikmati gesekan kontolku.

“Ahhh Ayu, enak memek kamu sayang.. aahhh shhh,,kaka pengen entot kamu yu..shhh ahh...” desahku sambil ku gesekkan kontolku dan ku mulai remas susunya yang tak begitu besar.

“Ahh... kaka...sayang..shhh ahhhh.. ahhhhhh ahhh...oohh cepet kak..”

“Iyah sayang shhh ahhh... oohhh oohhh sayangg aahhh Ayyuuuuhhh ahhhhhhh....”aku semakin mempercepat gesekkanku di memek Ayu. Ayu memeluk dan lalu menciumku ganas.

“Muuuacchh mmmhh..mmmhhh..kaka. memek Ayu diapainn ahhhh,,shhh ahhhh enak kaka,,,sshhhmmmmmuahhh....” Ayu menjambak rambutku dan ikut menekan kontolku dengan memeknya yang lalu ia goyangkan.

Aku sontak terkaget dengan goyangan Ayu. “ahhhh,,,diem sayang, jangan di goyangin, bisi masuk ke memek,,,aahhh shhh ahhh...”Aku tahan pantatnya, aku tempatkan jariku di belahan pantatnya yang dekat ke memek.

“Ahh iya ka..maafhhh ahhhh enakk kaaa... aahhh Ayu mau pipiss ahhh lemessshh ahhhhh kakaa..” Ayu mendongakkan kepalanya dan lalu mencium leherku.

“ahhh bentar sayang,, ahh kaka bentar lagi ngecrot.. aahhh ahhh ahhh sayang ahhh...” aku mempercepat gesekkanku di memek Ayu. Aku lebih menekankankan kontolku di belahan memeknya, dan merasa pertahananku akan jebol.

“Ahh... kaka...pipis..ahhh kaka Ayu mau pipiss... ahhhh.. ahh ahh ahhhhhhhhh....” dan lalu tubuh Ayu menggelinjang, melenting kebelakang,dan ada cairan menetes ke lantai. “ahhh kakaaaaa...enaaaaakkkkkhhhhhh aahhhhhh...Ayu lemes kaaa...Ayu Pipiss...ahhhhhhh...” ceracau Ayu ditengah orgasmenya yang pertama.

“Ahhh...Ayu sayang ahhh... kaka keluar... kaka juga mau keluar,,, ahhhh Ayuuuuu aaaahhhhhh ssshhh aaaaaarrrrgggggggghhhh,,,,” dan crooot...crooott...crooot.... berkali-kali aku menyemprotkan air maniku yang lalu hinggap di bibir memeknya, di tembok dan kebanyakan di celana dalam Ayu yang tersangkut di lutut.

“Ahhh.. kaka keluar yu.. hhee.. Mmmuuuaccchhh...”

“hhe.. Lemes banget kak, kaya gini.. Ayu baru pertama ngerasain..mmmuahh..mmmhh” Ayu lalu memelukku lagi dan mencium pipiku dan lalu bibirku.

“Mmuach... Ayu ga marah kan kaka gini ama Ayu?” tanyaku memastikan.

“Hehe... nggak kok.. enak.. hehe :P”

“hhi.. makasih sayang... kaka beneran sayang sama Ayu,,,mmuah” aku mencium keningnya yang terhalang kerudung.

“Ayu juga ka.. mmhh.. bentar ka.. Ayu pake celana dulu..” Ayu berjongkok, menaikkan celana dalamnya, dan akupun juga menaikan celanaku dan merapihkannya.

“iiihhh.. cangcut Ayu basah banget.. pas di memeknya pisan lagii...ahh jadi ga enakeun..” Ayu bersungut-sungut merasakan celananya basah karena tumpahan spermaku.

“Mani kaka itu teh, ya udah Ayu buka aja celananya..gausah pake celana dalem..” kataku bercanda.

“Ih malu atuh.. eh tapi da pake rok yah.. ya udah ath... tapi Ayu titip di kaka atuh yah, da masa bawa-bawa CD..he..” Ayu menanggapi serius saranku, dan lalu ia membuka celana dalamnya lalu ia pakai mengelap memeknya dan tumpahan maniku di pahanya. Ayu lalu memberikan celananya kepadaku.

“Makasih ya sayang.. mmmuah..” aku cium bibirnya lagi, Ayu membalasnya.

“Sama-sama ka..” Ayu kembali melemparkan senyum padaku.

“Yu, boleh kaka cium memek Ayu gak?”

“hehe.. ngapain ih.. iya udah sok aja ka..” Ayu mengangkat roknya memperlihatkan memeknya yang merah merekah dengan jembut yang jarang.

Aku berjongkok, memperhatikan memeknya yang putih bersih dengan itil yang masih menonjol. Belahannya pink, merekah.. tak menunggu lama aku cium bibir memeknya, aku emut itilnya dan menjilat belahan memeknya yang legit. Memeknya sedikit bau asem, dan khas bau memek ABG remaja. Aku cium terus memek Ayu, bidadari cantikku.

“Hhi.. aahh,, udah kaka.. suka banget sama memek Ayu teh..hee..aah..” ujar Ayu sambil mengelus kepalaku yang sedang menciumi memeknya.

Aku lalu sudahi mencium memeknya, takut ketahuan berlama-lama disini. “Ya udah, balik ke kelas ya.. ntar kaka boleh lagi kan gesek memek Ayu? Hehe :P” kataku.

“hehe iya kak.. huum, boleh kak.. Ayu suka..” Ayu merapikan rok panjangnya, dan kerudungnya yang sedikit kacau karena perbuatanku. Lalu Ayu pun membuka kunci pintu, dan lalu keluar “Makasih kaka sayang..daahh..” Ayu melambaikan tangan kepadaku dan berlalu menuju kelasnya.

Aku kembali masuk keruanganku, terduduk dan membayangkan apa yang aku lakukan tadi kepada Ayu yang cantik itu. Ahh, serasa mimpi aku bisa menggesek memeknya yang indah. Celana dalamnya yang masih kupegang, aku ciumi dan ku hirup aroma memeknya. Lalu masukkan ke celana dalamku dan ku tempel ke kontolku, ahhh nyaman kontolku di balut celana dalam Ayu.

Tinut..tinutt,,tinutt.. handphoneku berbunyi tanda ada SMS. Segera ku buka, dan itu dari Ayu!. “Kak.. pulangnya anterin yah.. :* sayang kaka..” begitu isi SMS nya. Aku senyum sumringah! Langsung ku balas, “Siap tuan putri.. :* sayang Ayu..” message sent.
Readmore
Older Posts Ruang Dewasa | Booking Cewek Online
 

Copyright © 2016 Ruang Dewasa | Booking Cewek Online | Powered by Blogger