Tubuh Natalie mengencang saat penisku menghantam rahimnya dengan kuat. Desahannya memenuhi ruangan. Tubuhnya yang matang dan seksi mengkilat bersimbah keringat, meliuk, bergerak naik-turun di atas tubuhku. Aku meremas pantatnya yang montok. Penisku terus menghujam vaginanya."Mmnnhh.. Nat... Natt... Mmmhh..." desahku. Vaginanya mengencang, menjepit penisku semakin keras.
"Oh Sh... Shit... Shiit... Nhh... Adiit..." Natalie mendesah makin kuat. Aku mulai merasa tubuhnya gemetar... Tanda sebentar lagi ia akan kembali mencapai klimaks.
"Mau... Nngh... Keluar...?" tanyaku. Natalie mengangguk cepat-cepat.
"Fuck.. Oh Dit... DIT! Gue... Ku... Arrr.... Ngggghhh!" Natalie melenguh kencang-kencang saat mencapai orgasme nya yang keempat malam itu. Cairan vaginanya menyemprot-nyemprot keluar. Tubuhnya mengencang, kemudian terkulai lemas di atasku.
Aku masih belum puas. Kuangkat tubuh Natalie dan kubalikkan hingga tertelungkup. Tanpa disuruh, ia mengangkat pantatnya, menungging.
"Shit... Why are you so strong..." umpatnya sambil nyengir. Aku terkekeh sambil mengarahkan penisku yang masih sekeras batu ke arah anusnya.
"Sekali lagi masih bisa lah..." kataku.
Dengan kuat kutusukkan penisku ke dalam anusnya. Natalie mengerang, menikmati. Anusnya seperti menyedot penisku kuat-kuat. Enak sekali.
"Mmhh... Mhhh! Nghh... Natalie... Nat... Natt..." desahku seirama dengan hujaman penisku.
"Ohh.. Ohh... Oh! Aaahh..." Natalie tak banyak berkata-kata.
Pinggul wanita ini bergerak seirama tusukanku yang semakin lama semakin cepat, semakin kuat. Anusnya mengencang. Kuremas pantatnya yang montok, kutampar sekali-sekali. Natalie mendesah, mengerang, melenguh keenakan.
"Anjrit Dit... Gue... Oh... Shh... Shit... I'm... Cumming... Cumm..."
"Mnhh.. Wait Nat... Gue juga... Wait... Mmmhh.. Nat... Naat!"
"Aah... Aaah... Mmmmhhh!"
Kami orgasme bersamaan. Aku meledakkan spermaku berkali-kali ke dalam anusnya, kemudian mencabut dan menyemprotkannya ke atas pantat, pinggang, dan punggung Natalie, seolah tak berhenti-berhenti.
Kurobohkan tubuhku di sebelah Natalie. Kami berdua terengah-engah, berusaha mengatur nafas.
"You're crazy you know that..." bisiknya sambil terengah.
"Hh... Haha... So are you..." jawabku. Natalie tertawa lelah. Kami memejamkan mata. Penisku ngilu sekali rasanya keluar empat kali.
Sudah hampir sebulan aku tinggal di Amsterdam. Sekitar pertengahan tahun ini, sebuah perusahaan pembuat film dewasa ternama dari Amerika mendekatiku dan memintaku untuk menyutradarai sekaligus melakukan shooting proyek film dewasa produksi terbaru mereka. Ini adalah produksi besar, melibatkan banyak pornstar kelas dunia. Nilai kontraknya sangat menggiurkan, tapi aku harus menyelesaikan proses shooting ini dalam waktu dua bulan, dan harus dilakukan di Amsterdam, Belanda. Awalnya aku mengira Cherry, Vany, Ella, dan anak-anak tidak akan mengizinkanku... Tapi ternyata mereka sangat mendukung. Mereka sepakat berkata bahwa ini kesempatan yang jarang tiba, dan sayang jika disia-siakan.
Akhirnya, pertengahan bulan Agustus yang lalu, aku berangkat ke Belanda, ditemani Ella, anak sulungku dari Vany yang sekarang berusia 15 tahun. Ella yang sedang liburan sekolah musim panas akan tinggal selama seminggu di Amsterdam, menemani (dan tentunya memenuhi kebutuhan seksual) ayahnya, sebelum kembali ke Tokyo dan kembali bersekolah.
Setibanya di Amsterdam, kami terkejut karena dijemput di bandara oleh Natalie Anneke Setiawan, teman keluarga kami. Natalie adalah orang Indonesia campuran Belanda, seusiaku, teman satu almamater dengan aku dan Cherry dulu saat berkuliah di Singapura, dan salah satu dari sangat sedikit orang yang mengetahui cerita-cerita seru di keluargaku.
Natalie adalah seorang wanita cantik, tinggi semampai sekitar 175cm, berambut coklat tua panjang bergelombang, dan berkulit kuning langsat mulus. Untuk wanita berusia tiga puluh empat tahun, Natalie bisa dibilang sangat seksi: Badannya masih langsing ideal, dengan dada yang pas besarnya (36D), dan paha yang luar biasa jenjang. Natalie tak pernah menikah, tapi tak pernah membatasi diri untuk berhubungan seksual dengan siapa pun yang dianggapnya layak menikmati tubuh indahnya... Termasuk diriku.
Usut punya usut, ternyata Natalie adalah salah satu petinggi di perusahaan yang mengontrakku, dan saat tahu bahwa teman lamanya yang akan menyutradarai dan mengurus shooting proyek terbesar mereka, ia ngotot mau menjadi produser dan mengawasi proses produksi di Belanda. Akhirnya, sampailah ia di Amsterdam, bertemu dengan teman lamanya, dan menjadi guide serta host yang sangat baik bagi aku dan Ella. Seminggu kemudian, saat Ella akhirnya pulang ke Tokyo, Natalie pun mengambil alih 'tugas' Ella, dan memuaskanku dengan sangat luar biasa.
Kami bekerja bersama dengan sangat baik, dan tanpa terasa, setengah proses produksi sudah berjalan dengan sempurna. Malam itu, kami menikmati malam kami berdua setelah sehari penuh menghabiskan seluruh tenaga untuk shooting, dan setelah hampir dua jam saling memuaskan, kami tergeletak lemas di ranjang.
"So... Lu kosong ga Saturday?" tanyaku, mengatur jadwal 'meeting' berikutnya.
"Saturday... Wait let me check," ujarnya sambil meraih smartphone dan kacamatanya yang terletak di meja kecil di samping ranjang. Tubuhnya yang indah masih tertelungkup. Aku pun bangkit, menciumi punggung temanku ini dengan lembut. Natalie membuka kalendernya.
"Oh no... Sorry... Gue musti ke Frankfurt besok sampe Senin depan," keluh Natalie. Aku nyengir. Memang wanita sibuk.
"Right... Gue sendirian this weekend berarti," kataku pura-pura merajuk. Natalie tertawa.
"Uuu... Kecian... Adit cuma masturbasi doang ya weekend ini," katanya sambil memegang pipiku dengan kedua tangannya, sok imut. Aku tertawa dan mengecup bibir temanku ini.
"Rese lu..." ujarku. Natalie terkekeh dan merebahkan dirinya ke ranjang. Telentang. Aku masih mengagumi tubuhnya yang sungguh indah, kumainkan jemariku di kedua dadanya yang montok dan putingnya yang coklat tua dan menantang.
"Untung ada gue lu... Kalo ga bakal bosen di sini dua bulan," katanya.
"Ya sih... Thank you, Nat," kataku setuju. Kusedot putingnya perlahan. Natalie mendesah, membelai-belai rambutku lembut. Tiba-tiba ia tertegun.
"No... Wait. I've got an idea!" katanya setengah berpikir. Kuangakat wajahku dari dadanya, menatap matanya yang indah.
"Clar!" ujarnya.
"Who?"
"Clar... Clarissa." katanya bersemangat.
*"… Hah?" tanyaku. Bingung. Natalie tak menjawab, tapi ia segera membuka folder foto smartphone-nya, mencari hingga menemukan sebuah foto, dan langsung menunjukkannya padaku: Foto seorang gadis sangat cantik, mirip Natalie.
"Siapa nih?”
“My… Let’s just say she’s my niece. Keponakan gue. Cakep kan?"
"Cakep sih... Kenapa emangnya dia?"
"Ya ga kenapa-kenapa... Dia butuh ekstra uang buat kuliah," jawab Natalie tanpa dosa.
Aku terdiam sejenak, kata-kata Natalie tak langsung menyatu di pikiranku. Sedetik kemudian aku tersadar.
"Ohhh! Ya ampun Nat keponakan sendiri di jual sih..." ujarku.
"Loh! Apa sih! Dia emang mau jadi pornstar juga... Cuma belom ketemu kesempatan... Nah siapa tau weekend ini bisa ngobrol sama salah satu sutrarada film dewasa paling beken dari Jepang... Ya ga sih," papar Natalie panjang, masih dengan wajah serius dan dengan tatapan tanpa dosa. Aku menatap temanku ini dan tertawa. Sedetik kemudian, Natalie pun tertawa juga.
"Ya... Kalo mau diajak bersenang-senang juga boleh," tambahnya sambil tertawa.
"Lu parah sih keponakan sendiri..." kataku pura-pura tak percaya, sambil menatap foto Clarissa. "Umur brapa nih? Cakep banget..."
"Tebak," kata Natalie. Aku termenung sebentar.
"20? 21?" tebakku. Natalie menggeleng.
"Tujuh belas," jawabnya. Mataku terbelalak.
"Hah? Sumpah lu tujuh belas? Dewasa amat tampangnya!" kataku. Natalie tertawa.
"Ya... Tinggi, lagi. Lebih tinggi dari gue. Se lu gitu pendek dikit lah," jawab Natalie.
"Gila-gila..."
Kutatap kembali layar handphone itu. Memang cantik sih keponakan temanku ini. Tapi apakah etis bersetubuh dengan keponakan temanku sendiri, yang tidak pernah mengenalku sebelumnya?
"... Berapa?" tanyaku akhirnya. Natalie menyebutkan sebuah harga, cukup tinggi.
"Tapi I guarantee... Worth every penny," tandas temanku. Aku menimbang-nimbang.
"... Okelah. Siapa tau beneran juga bisa direkrut jadi pornstar," jawabku mengiyakan.
Natalie nyengir, merebahkan dirinya di sampingku dan mengecup pipiku.
"Oke... Besok gue kontek dia," katanya. Saat itu tangannya merogoh ke selangkanganku, menyentuh penisku dengan lembut.
"Eh... Eh... Ini apa-apaan nih!?" kataku pura-pura protes. Natalie nyengir nakal.
"Yakin gamau lagi? Ini tegang begini..." katanya seraya mengocok penisku perlahan.
Aku tertawa, mengecup bibirnya.
"Dasar..." bisikku sambil menaiki teman kerjaku ini.
Bersambung ke: Menikmati Pantat Seksi ABG Calon Bintang Porno
"Sekali lagi masih bisa lah..." kataku.
Dengan kuat kutusukkan penisku ke dalam anusnya. Natalie mengerang, menikmati. Anusnya seperti menyedot penisku kuat-kuat. Enak sekali.
"Mmhh... Mhhh! Nghh... Natalie... Nat... Natt..." desahku seirama dengan hujaman penisku.
"Ohh.. Ohh... Oh! Aaahh..." Natalie tak banyak berkata-kata.
Pinggul wanita ini bergerak seirama tusukanku yang semakin lama semakin cepat, semakin kuat. Anusnya mengencang. Kuremas pantatnya yang montok, kutampar sekali-sekali. Natalie mendesah, mengerang, melenguh keenakan.
"Anjrit Dit... Gue... Oh... Shh... Shit... I'm... Cumming... Cumm..."
"Mnhh.. Wait Nat... Gue juga... Wait... Mmmhh.. Nat... Naat!"
"Aah... Aaah... Mmmmhhh!"
Kami orgasme bersamaan. Aku meledakkan spermaku berkali-kali ke dalam anusnya, kemudian mencabut dan menyemprotkannya ke atas pantat, pinggang, dan punggung Natalie, seolah tak berhenti-berhenti.
Kurobohkan tubuhku di sebelah Natalie. Kami berdua terengah-engah, berusaha mengatur nafas.
"You're crazy you know that..." bisiknya sambil terengah.
"Hh... Haha... So are you..." jawabku. Natalie tertawa lelah. Kami memejamkan mata. Penisku ngilu sekali rasanya keluar empat kali.
Sudah hampir sebulan aku tinggal di Amsterdam. Sekitar pertengahan tahun ini, sebuah perusahaan pembuat film dewasa ternama dari Amerika mendekatiku dan memintaku untuk menyutradarai sekaligus melakukan shooting proyek film dewasa produksi terbaru mereka. Ini adalah produksi besar, melibatkan banyak pornstar kelas dunia. Nilai kontraknya sangat menggiurkan, tapi aku harus menyelesaikan proses shooting ini dalam waktu dua bulan, dan harus dilakukan di Amsterdam, Belanda. Awalnya aku mengira Cherry, Vany, Ella, dan anak-anak tidak akan mengizinkanku... Tapi ternyata mereka sangat mendukung. Mereka sepakat berkata bahwa ini kesempatan yang jarang tiba, dan sayang jika disia-siakan.
Akhirnya, pertengahan bulan Agustus yang lalu, aku berangkat ke Belanda, ditemani Ella, anak sulungku dari Vany yang sekarang berusia 15 tahun. Ella yang sedang liburan sekolah musim panas akan tinggal selama seminggu di Amsterdam, menemani (dan tentunya memenuhi kebutuhan seksual) ayahnya, sebelum kembali ke Tokyo dan kembali bersekolah.
Setibanya di Amsterdam, kami terkejut karena dijemput di bandara oleh Natalie Anneke Setiawan, teman keluarga kami. Natalie adalah orang Indonesia campuran Belanda, seusiaku, teman satu almamater dengan aku dan Cherry dulu saat berkuliah di Singapura, dan salah satu dari sangat sedikit orang yang mengetahui cerita-cerita seru di keluargaku.
Natalie adalah seorang wanita cantik, tinggi semampai sekitar 175cm, berambut coklat tua panjang bergelombang, dan berkulit kuning langsat mulus. Untuk wanita berusia tiga puluh empat tahun, Natalie bisa dibilang sangat seksi: Badannya masih langsing ideal, dengan dada yang pas besarnya (36D), dan paha yang luar biasa jenjang. Natalie tak pernah menikah, tapi tak pernah membatasi diri untuk berhubungan seksual dengan siapa pun yang dianggapnya layak menikmati tubuh indahnya... Termasuk diriku.
Usut punya usut, ternyata Natalie adalah salah satu petinggi di perusahaan yang mengontrakku, dan saat tahu bahwa teman lamanya yang akan menyutradarai dan mengurus shooting proyek terbesar mereka, ia ngotot mau menjadi produser dan mengawasi proses produksi di Belanda. Akhirnya, sampailah ia di Amsterdam, bertemu dengan teman lamanya, dan menjadi guide serta host yang sangat baik bagi aku dan Ella. Seminggu kemudian, saat Ella akhirnya pulang ke Tokyo, Natalie pun mengambil alih 'tugas' Ella, dan memuaskanku dengan sangat luar biasa.
Kami bekerja bersama dengan sangat baik, dan tanpa terasa, setengah proses produksi sudah berjalan dengan sempurna. Malam itu, kami menikmati malam kami berdua setelah sehari penuh menghabiskan seluruh tenaga untuk shooting, dan setelah hampir dua jam saling memuaskan, kami tergeletak lemas di ranjang.
"So... Lu kosong ga Saturday?" tanyaku, mengatur jadwal 'meeting' berikutnya.
"Saturday... Wait let me check," ujarnya sambil meraih smartphone dan kacamatanya yang terletak di meja kecil di samping ranjang. Tubuhnya yang indah masih tertelungkup. Aku pun bangkit, menciumi punggung temanku ini dengan lembut. Natalie membuka kalendernya.
"Oh no... Sorry... Gue musti ke Frankfurt besok sampe Senin depan," keluh Natalie. Aku nyengir. Memang wanita sibuk.
"Right... Gue sendirian this weekend berarti," kataku pura-pura merajuk. Natalie tertawa.
"Uuu... Kecian... Adit cuma masturbasi doang ya weekend ini," katanya sambil memegang pipiku dengan kedua tangannya, sok imut. Aku tertawa dan mengecup bibir temanku ini.
"Rese lu..." ujarku. Natalie terkekeh dan merebahkan dirinya ke ranjang. Telentang. Aku masih mengagumi tubuhnya yang sungguh indah, kumainkan jemariku di kedua dadanya yang montok dan putingnya yang coklat tua dan menantang.
"Untung ada gue lu... Kalo ga bakal bosen di sini dua bulan," katanya.
"Ya sih... Thank you, Nat," kataku setuju. Kusedot putingnya perlahan. Natalie mendesah, membelai-belai rambutku lembut. Tiba-tiba ia tertegun.
"No... Wait. I've got an idea!" katanya setengah berpikir. Kuangakat wajahku dari dadanya, menatap matanya yang indah.
"Clar!" ujarnya.
"Who?"
"Clar... Clarissa." katanya bersemangat.
*"… Hah?" tanyaku. Bingung. Natalie tak menjawab, tapi ia segera membuka folder foto smartphone-nya, mencari hingga menemukan sebuah foto, dan langsung menunjukkannya padaku: Foto seorang gadis sangat cantik, mirip Natalie.
"Siapa nih?”
“My… Let’s just say she’s my niece. Keponakan gue. Cakep kan?"
"Cakep sih... Kenapa emangnya dia?"
"Ya ga kenapa-kenapa... Dia butuh ekstra uang buat kuliah," jawab Natalie tanpa dosa.
Aku terdiam sejenak, kata-kata Natalie tak langsung menyatu di pikiranku. Sedetik kemudian aku tersadar.
"Ohhh! Ya ampun Nat keponakan sendiri di jual sih..." ujarku.
"Loh! Apa sih! Dia emang mau jadi pornstar juga... Cuma belom ketemu kesempatan... Nah siapa tau weekend ini bisa ngobrol sama salah satu sutrarada film dewasa paling beken dari Jepang... Ya ga sih," papar Natalie panjang, masih dengan wajah serius dan dengan tatapan tanpa dosa. Aku menatap temanku ini dan tertawa. Sedetik kemudian, Natalie pun tertawa juga.
"Ya... Kalo mau diajak bersenang-senang juga boleh," tambahnya sambil tertawa.
"Lu parah sih keponakan sendiri..." kataku pura-pura tak percaya, sambil menatap foto Clarissa. "Umur brapa nih? Cakep banget..."
"Tebak," kata Natalie. Aku termenung sebentar.
"20? 21?" tebakku. Natalie menggeleng.
"Tujuh belas," jawabnya. Mataku terbelalak.
"Hah? Sumpah lu tujuh belas? Dewasa amat tampangnya!" kataku. Natalie tertawa.
"Ya... Tinggi, lagi. Lebih tinggi dari gue. Se lu gitu pendek dikit lah," jawab Natalie.
"Gila-gila..."
Kutatap kembali layar handphone itu. Memang cantik sih keponakan temanku ini. Tapi apakah etis bersetubuh dengan keponakan temanku sendiri, yang tidak pernah mengenalku sebelumnya?
"... Berapa?" tanyaku akhirnya. Natalie menyebutkan sebuah harga, cukup tinggi.
"Tapi I guarantee... Worth every penny," tandas temanku. Aku menimbang-nimbang.
"... Okelah. Siapa tau beneran juga bisa direkrut jadi pornstar," jawabku mengiyakan.
Natalie nyengir, merebahkan dirinya di sampingku dan mengecup pipiku.
"Oke... Besok gue kontek dia," katanya. Saat itu tangannya merogoh ke selangkanganku, menyentuh penisku dengan lembut.
"Eh... Eh... Ini apa-apaan nih!?" kataku pura-pura protes. Natalie nyengir nakal.
"Yakin gamau lagi? Ini tegang begini..." katanya seraya mengocok penisku perlahan.
Aku tertawa, mengecup bibirnya.
"Dasar..." bisikku sambil menaiki teman kerjaku ini.
Bersambung ke: Menikmati Pantat Seksi ABG Calon Bintang Porno
Cerita Dewasa tentang Berawal Foto-Foto Seksi Berakhir Threesome Sex Yang Panas ini merupakan kelanjutan dari Cerita Dewasa Daun Muda sebelumnya yang berjudul, "
Kisah Sukses Menikmati dan Menggarap ABG Lugu Berkali-kali Sampai Puas berikut ini merupakan kelanjutan dari Cerita Dewasa sebelumnya yang berjudul, "
Perkenalkan, nama gue Roni umur gue 22 tahun. Gue lahir di keluarga yang sedang-sedang aja, gak terlalu miskin gak terlalu kaya. Bokap nyokap gue tinggal di Jakarta karena mereka kerja disana, tapi gue tinggal di salah satu kota di daerah Jawa Tengah. Gue salah satu lulusan Fakultas Biologi di salah satu universitas tempat gue tinggal, tapi gue memilih untuk tidak bekerja dahulu. Gue pengen santai bentar di rumah tempat gue tinggal dan bersama ABG Lugu dan Seksi yang bekerja sebagai pembantu kesayangan gue, Ine (mengapa kesayangan gue? Nanti gue ceritain hehe..).
Bel istirahat di sebuah sekolah sudah berbunyi menandakan waktu istirahat pertama telah di mulai. Anak anak terlihat berlari menuju pojok sekolah yang telah bersiap para pedagang jajanan makanan dan minuman. Di antara sejumlah pedagang terlihat Paijo dengan ciri khas topi di balik dan sehelai handuk yang dilingkarkan di leher sedang menggoreng cimol dagangan nya.
Perkenalkan, namaku Iky, umurku baru 24 tahun dan belum menikah. Meski begitu, aku sudah bekerja, aku seorang guru yang sering melayani konsultasi para siswa di salah satu sekolah SMA swasta di kota kembang. Aku bekerja sudah dua tahun, dan karena masih muda dan wajah serta perawakanku cukup lumayan, aku disukai para siswi. Sering, para siswi sengaja cari-cari perhatian padaku. Kadang, mereka cari-cari alasan untuk konsul denganku, meski itu tak begitu penting. Tapi meski begitu aku melayaninya. Etika profesionalku, membuatku tak bisa menolak permintaan siswa.

